“Kami fokus pada apa yang terbaik bagi masyarakat yang kami layani,” ujarnya. “Kenyataannya, sebagian besar orang yang menyebut kami politis hanya melontarkan serangan murahan.”
Presiden Donald Trump, selain terus menekan The Fed untuk memangkas suku bunga, termasuk di antara politisi Partai Republik yang menuding Powell membuat keputusan yang menguntungkan Demokrat.
Pernyataan Powell pada Selasa sejalan dengan konferensi pers 17 September lalu, setelah The Fed memangkas suku bunga acuan ke kisaran 4%-4,25%. Itu menjadi penurunan pertama pada 2025, yang ia sebut sebagai langkah “manajemen risiko” guna merespons tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja.
Data terbaru dan revisi angka sebelumnya menunjukkan perlambatan tajam dalam penciptaan lapangan kerja. Situasi ini makin rumit akibat menurunnya pasokan tenaga kerja, seiring pengetatan kebijakan imigrasi oleh Trump.
“Terjadi perlambatan signifikan baik pada pasokan maupun permintaan tenaga kerja — perkembangan yang tidak biasa dan penuh tantangan,” ujar Powell. “Dalam pasar tenaga kerja yang kini kurang dinamis dan agak melemah, risiko penurunan lapangan kerja meningkat.”
Fokus pada Inflasi
Meski begitu, Powell tetap menegaskan The Fed harus waspada terhadap kemungkinan dampak jangka panjang dari tarif impor yang diterapkan Trump.
Ia menyebut kenaikan harga belakangan ini sebagian besar dipicu tarif, namun tetap memperkirakan dampak itu hanya bersifat “sekali saja.”
“Powell tidak se-dovish yang diharapkan pasar, mirip dengan nada yang ia sampaikan pekan lalu,” tulis ekonom Nationwide, Oren Klachkin, dalam catatan usai pidato. “Namun ia tetap melihat tarif sebagai penyesuaian sekali waktu, yang bisa memberinya ruang untuk melanjutkan pelonggaran.”
Tantangan ke depan bagi The Fed tercermin dari beragam pandangan pejabatnya terkait jalur suku bunga. Proyeksi kuartalan terbaru menunjukkan median perkiraan dua kali pemangkasan suku bunga lagi tahun ini.
Namun, sebagian pejabat hanya memperkirakan satu kali atau bahkan tidak ada pemangkasan tambahan pada 2025. Ada yang tetap mengusulkan pendekatan hati-hati karena inflasi masih di atas target 2%, sementara yang lain lebih menekankan kondisi pasar tenaga kerja.
Gubernur The Fed Michelle Bowman, misalnya, menilai pejabat harus bertindak tegas memangkas suku bunga di tengah pelemahan pasar tenaga kerja, sembari memperingatkan risiko The Fed tertinggal dari situasi. Sedangkan anggota baru dewan gubernur, Stephen Miran, bahkan menyerukan pemangkasan tajam sepanjang sisa tahun ini — pandangan yang berbeda dari mayoritas.
Trump, yang menunjuk Bowman dan Miran, terus menekan Powell agar memangkas suku bunga lebih dalam. Presiden AS itu bahkan mencoba memecat Deputi Gubernur The Fed Lisa Cook, langkah belum pernah terjadi sebelumnya yang kini menunggu keputusan Mahkamah Agung, dengan implikasi besar bagi independensi The Fed dari pengaruh politik.
Powell menutup pidatonya dengan mengingatkan bahwa krisis keuangan 2008–2009 dan pandemi Covid-19 telah meninggalkan luka panjang.
“Di negara-negara demokrasi, kepercayaan publik terhadap institusi ekonomi dan politik sedang diuji,” katanya. “Kita yang berada di sektor publik saat ini harus fokus sepenuhnya menjalankan misi penting kita dengan kemampuan terbaik, di tengah badai dan angin yang kuat.”
(bbn)































