Logo Bloomberg Technoz

Untuk urusan kinerja, ASII membukukan pendapatan bersih Rp162,9 triliun pada semester pertama 2025, naik 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, laba bersih konsolidasian tercatat sekitar Rp16 triliun, tertekan oleh penurunan kinerja pada bisnis jasa penambangan dan pertambangan batubara. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh curah hujan tinggi serta harga komoditas yang melemah sepanjang paruh pertama tahun ini.

Kontribusi terbesar laba bersih ASII masih datang dari sektor otomotif dan jasa keuangan yang secara konsolidasi menyumbang sekitar 60%. Sektor alat berat dan pertambangan melalui PT United Tractors Tbk (UNTR) berkontribusi sekitar 31%, sementara sisanya berasal dari agribisnis, infrastruktur, properti, dan teknologi informasi.

Pada segmen otomotif, penjualan mobil nasional turun hampir 10% menjadi 375 ribu unit sehingga market share Astra ikut melemah dari 57% menjadi 50%. Penjualan sepeda motor ikut turun 2% menjadi 3,1 juta unit, meski pangsa pasar Honda tetap stabil di level 97%. Di sisi lain, bisnis komponen justru mencatatkan kinerja positif dengan peningkatan laba sebesar 11% menjadi Rp751 miliar.

Kinerja sektor agribisnis melalui Astra Agro Lestari (AALI) mengalami kenaikan laba bersih 40% menjadi Rp559 miliar. Pendorong utamanya adalah peningkatan harga jual crude palm oil (CPO) dan volume penjualan. 

Pada bidang infrastruktur turut menguat dengan kenaikan laba bersih 38% menjadi Rp636 miliar, ditopang peningkatan volume lalu lintas jalan tol dan penyesuaian tarif. Hingga saat ini, Astra mengelola delapan konsesi jalan tol dengan panjang hampir 400 kilometer, terutama di jaringan Trans Jawa dan Jakarta Outer Ring Road.

Pada lini bisnis properti, Astra meraih laba bersih Rp110 miliar, naik 17%,  didukung akuisisi sejumlah gudang industri serta peningkatan tingkat okupansi di Menara Astra. Pada sektor teknologi informasi tumbuh 30% menjadi Rp82 miliar, seiring dengan meningkatnya permintaan solusi IT dan perbaikan margin operasional.

“Bisnis inti Astra tetap resilien, tetapi kami terus mencari peluang di sektor-sektor baru yang prospektif. Ekspansi ke industrial dan logistik merupakan bagian dari strategi itu,” pungkas Mariam.

Astra juga masuk ke sektor kesehatan karena dipandang memiliki prospek cerah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, jelas Mariam. Menurut dia, sejak 2021 perseroan mulai berinvestasi di sektor kesehatan. Beberapa langkah yang telah ditempuh antara lain investasi di Halodoc, RS Heartology, sampai RS Hermina.

“Kami berharap dapat memberikan pelayanan yang lebih terjangkau dan mudah diakses bagi masyarakat, termasuk juga asuransinya dan ekosistem di dalamnya,” tegas dia.

(rtd/red)

No more pages