Logo Bloomberg Technoz

Adapun, longsor yang terjadi di Grasberg Block Cave dilaporkan membuat utilitas produksi tambang Freeport turun hanya menjadi 30% dari total kapasitas tambang.

Secara global, kata Rizal, Indonesia merupakan negara produsen tembaga terbesar ke-5. Pasokan tembaga dari Freeport sendiri menyumbang sekitar 3% dari total produksi global.

Rizal menjelaskan negara penghasil pertama tembaga merupakan Cile dengan kontribusi produksi sekitar 23% terhadap total pasokan global. Kedua, Peru dengan kontribusi produksi sebesar 12% terhadap seluruh stok tembaga global.

Ketiga, China dengan total produksi 12% terhadap keseluruhan pasokan tembaga dunia. Keempat, Kongo dengan total produksi tembaga sebesar 8% terhadap total stok tembaga dunia.

“Negara-negara tersebut akan memberikan dampak signifikan kepada supply tembaga ke pasar global,” ungkap dia.

Jika mengacu data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) per 2024, Indonesia merupakan produsen tembaga nomor lima dunia dengan total produksi sebesar 1,1 juta ton tembaga.

Di posisi tersebut, Indonesia menempati posisi yang sama dengan Amerika Serikat (AS) yang sama-sama memiliki total produksi tembaga sebesar 1,1 juta ton.

Perinciannya, Cile menempati posisi pertama dengan produksi tembaga sebesar 5,3 juta ton, Kongo posisi kedua dengan total produksi tembaga 3,3 juta ton, Peru di posisi ketiga dengan produksi 2,6 juta ton, China di posisi keempat dengan 1,8 juta ton, dan AS menempati posisi kelima dengan 1,1 juta ton.

Produksi tambang-tambang tembaga terbesar di dunia./dok. BMI

Smelter Freeport 

Rizal juga mewaspadai gangguan operasional yang terjadi di tambang Grasberg Block Cave akan memengaruhi pasokan tembaga ke smelter milik Freeport. Akan tetapi, hal tersebut berpotensi terjadi ketika penyetopan sementara operasional tambang itu terjadi dalam jangka waktu panjang.

Dia menilai pasokan bijih tembaga yang dimiliki Freeport saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan smelter tembaganya.

“Untuk jangka pendek, pengaruhnya mungkin belum begitu dirasakan untuk smelter karena masih bisa menggunakan stok konsentrat yang ada di gudang, baik yang ada di Gresik maupun yang ada di Amamapare, Timika. Akan tetapi, kalau berhentinya lama tentu saja akan mengganggu suplai konsentrat ke smelter di Gresik,” terangnya.

Hingga kini, Freeport menegaskan upaya penyelamatan tujuh pekerja yang terjebak di areal tambang bawah tanah Grasberg Block Cave erus berlanjut. Adapun, tujuh pekerja itu terjebak sejak Senin (8/9/2025), akibat longsor yang terjadi di areal tambang.

VP Corporate Communications Freeport Katri Krisnati menjelaskan tim penyelamat terus bekerja tanpa henti untuk membuka akses menuju lokasi keberadaan tujuh pekerja tersebut, meski terus menghadapi tantangan dan risiko keselamatan tinggi.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk mendoakan kelancaran operasi serta keselamatan tim yang bertugas di lapangan,” kata Katri.

Hingga saat ini, operasional pertambangan di tambang bawah tanah tersebut masih diberhentikan sementara dan seluruh pihak terkait masih fokus mengevakuasi tujuh pekerja yang terjebak akibat insiden longsor tersebut.

Ditemui secara terpisah, Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengungkapkan dari tujuh pekerja yang terjebak di areal tambang GBC; dua di antaranya merupakan warga negara asing (WNA).

Dia menjelaskan, satu WNA yang ikut terjebak merupakan warga negara Cile dan satu lainnya adalah warga negara Afrika Selatan. Sementara itu, lima pekerja lainnya dipastikan pekerja asal Indonesia.

Imbas longsor tersebut, kata Tri, operasional GBC berhenti untuk sementara. Tak ayal, kapasitas produksi tambang Freeport turun menjadi 30% dari total kemampuan tambang.

Freeport sendiri mengandalkan tiga tambang yang dimiliki yakni; Grasberg Block Cave yang menghasilkan sekitar 140.000 ton bijih sehari, Deep Mill Level Zone (DMLZ) sekitar 70.000 ton bijih sehari, dan Big Gossan 7.000 ton bijih per hari dengan kadar tembaga yang lebih tinggi.

Adapun, Freeport sebelumnya mengungkapkan bahwa Kementerian ESDM menyetujui volume bijih yang ditambang perusahaan sebanyak 212.000 ton per hari dalam revisi rancangan kerja anggaran dan biaya (RKAB) 2025.

Dalam bijih tersebut terdapat 1% kandungan tembaga dan 1 gram/ton emas. Sementara itu, bijih yang ditambang secara anual ditargetkan sebanyak 75—77 juta ton untuk tahun ini.

Jumlah konsentrat yang diproduksi secara harian disetujui sebanyak 10.000 ton dan secara tahunan 3,5 juta ton, tergantung kadar tembaga yang ditambang. Kemudian, produksi tembaga tahun ini sebanyak 1,67 miliar pon, emas 1,6 juta ons, dan 5,7 juta ons.

(azr/wdh)

No more pages