Logo Bloomberg Technoz

Perhitungan ini menghasilkan persentase yang mencerminkan keuntungan bersih dibandingkan biaya awal. Misalnya, seseorang membeli saham senilai Rp10 juta dan menjualnya kembali dengan harga Rp12 juta. Keuntungan bersih Rp2 juta dibagi biaya awal Rp10 juta menghasilkan ROI 20%.

Kemudahan perhitungan inilah yang menjadikan ROI sebagai metrik populer. Investor dapat dengan cepat membandingkan kinerja satu aset dengan aset lain. Namun, untuk perhitungan proyek jangka panjang, biasanya arus kas dan biaya pemeliharaan juga dimasukkan agar hasil lebih akurat.

Contoh lain, seorang investor mengeluarkan Rp20 juta untuk bisnis toko kecil. Setelah satu tahun, bisnis itu menghasilkan keuntungan Rp5 juta. ROI dihitung sebagai Rp5 juta ÷ Rp20 juta = 25%. Dari sini, investor bisa menilai apakah hasil tersebut lebih baik dibandingkan investasi lain yang ditawarkan.

Mengapa ROI Sangat Berguna?

Keunggulan utama ROI adalah kemampuannya memberikan gambaran cepat mengenai profitabilitas. Investor tidak harus terjebak dalam analisis rumit untuk mengetahui apakah sebuah investasi layak dipertahankan atau ditinggalkan.

Bagi perusahaan, ROI bisa menjadi dasar untuk mengambil keputusan ekspansi, peluncuran produk baru, atau menilai efektivitas kampanye pemasaran. ROI juga dapat digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan anggaran, sehingga membantu manajemen dalam menetapkan prioritas.

Contohnya, sebuah perusahaan restoran ingin membuka cabang baru. Dengan menghitung ROI dari modal awal dan keuntungan yang diprediksi, manajemen bisa menilai apakah ekspansi tersebut layak atau justru berisiko. Jika hasil ROI positif dan lebih tinggi dibandingkan alternatif lain, maka rencana bisa dijalankan.

Contoh Kasus ROI

Ilustrasi Investasi. (Envato/ ijeab)

Kisah sederhana dapat menggambarkan pentingnya ROI. Seorang investor bernama Jo membeli saham Slice Pizza Corp. senilai $1.000 pada 2017. Setahun kemudian, saham itu dijual dengan harga $1.200. Keuntungan bersih $200 dibagi biaya investasi $1.000 menghasilkan ROI 20%.

Namun, Jo juga pernah membeli saham Big-Sale Stores Inc. senilai $2.000 pada 2014. Tiga tahun kemudian, saham tersebut dijual seharga $2.800. ROI dari transaksi ini adalah $800 ÷ $2.000 = 40%. Sekilas, investasi kedua tampak lebih menguntungkan.

Tetapi jika dihitung rata-rata tahunan, hasilnya berbeda. ROI 40% dibagi tiga tahun menghasilkan ROI tahunan 13,33%. Angka ini justru lebih rendah dibanding ROI tahunan 20% dari investasi pertama. Kasus ini menunjukkan bahwa faktor waktu sangat berpengaruh dalam menilai efisiensi investasi.

Keterbatasan ROI

Meski praktis, ROI bukanlah metrik sempurna. Salah satu kelemahan utamanya adalah tidak memperhitungkan nilai waktu uang. Sebuah investasi dengan ROI tinggi tetapi membutuhkan waktu lama mungkin tidak lebih baik dibanding investasi ber-ROI lebih rendah namun lebih cepat menghasilkan.

Selain itu, ROI juga tidak mempertimbangkan inflasi yang bisa mengikis nilai keuntungan di masa depan. Hal ini membuat ROI terkadang menyesatkan jika dijadikan satu-satunya patokan.

Oleh sebab itu, investor biasanya mengombinasikan ROI dengan metrik lain. Net Present Value (NPV) memperhitungkan nilai waktu uang, sementara Internal Rate of Return (IRR) membantu menilai tingkat pengembalian sesungguhnya. Dengan demikian, gambaran investasi akan lebih komprehensif.

Apa Itu ROI yang Baik?

Tidak ada standar baku mengenai ROI yang dianggap ideal. Banyak faktor yang memengaruhi, termasuk profil risiko, jangka waktu investasi, hingga kondisi industri.

Bagi investor konservatif, ROI rendah namun stabil bisa lebih menarik. Sebaliknya, investor agresif cenderung mengejar ROI tinggi meskipun berisiko. Dalam jangka pendek, ROI 10–20% bisa dianggap baik, sementara untuk investasi jangka panjang angka tersebut mungkin dianggap kurang.

Norma industri juga berperan. Perusahaan teknologi umumnya menawarkan ROI lebih tinggi karena pertumbuhan pesat, sementara sektor utilitas cenderung stabil dengan ROI rendah. Pada akhirnya, ROI “baik” ditentukan oleh tujuan dan toleransi risiko masing-masing investor.

Aplikasi ROI yang Lebih Luas

Ilustrasi Investasi (Envato/torianime)

Perkembangan konsep ROI tidak hanya terbatas pada keuntungan finansial. Saat ini, muncul istilah Social Return on Investment (SROI), yang memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan dari sebuah proyek.

SROI mulai dikenal sejak akhir 1990-an. Misalnya, perusahaan yang berinvestasi pada teknologi ramah lingkungan mungkin terlihat memiliki ROI rendah secara finansial. Namun, jika dihitung dampak sosial seperti penghematan energi atau pengurangan emisi, hasilnya bisa menunjukkan nilai tambah yang besar.

Selain SROI, ada juga ROI dalam pemasaran dan media sosial. ROI jenis ini digunakan untuk menilai efektivitas kampanye, seperti jumlah klik, pembelian, atau interaksi yang dihasilkan dari iklan digital. Dengan begitu, bisnis bisa menilai strategi mana yang memberikan pengembalian terbaik.

ROI dalam Istilah Sederhana

Bagi masyarakat awam, ROI bisa dipahami sebagai ukuran berapa banyak uang yang dihasilkan atau hilang dari sebuah investasi setelah memperhitungkan biaya awalnya.

Misalnya, jika seseorang menaruh Rp1 juta pada usaha kecil lalu mendapatkan keuntungan Rp200 ribu, ROI adalah 20%. Artinya, setiap Rp100 yang diinvestasikan, menghasilkan Rp20 keuntungan.

Dengan pemahaman sederhana ini, siapa pun bisa menilai apakah sebuah usaha atau investasi sepadan dengan modal yang dikeluarkan.

ROI dalam Berbagai Industri

Ilustrasi investasi pada reksa dana saham. (Dok Bloomberg)

Secara historis, rata-rata ROI tahunan S&P 500—indeks saham besar di Amerika Serikat—berada di kisaran 10%. Namun, di dalamnya terdapat variasi besar antarindustri.

Pada 2020, perusahaan teknologi mencatat ROI jauh di atas rata-rata, didorong oleh lonjakan permintaan digital. Sebaliknya, sektor energi dan utilitas justru mencatatkan ROI rendah, bahkan merugi akibat penurunan harga minyak dan perubahan regulasi.

Hal ini membuktikan bahwa ROI sangat dinamis dan bergantung pada kondisi pasar, persaingan, serta perubahan teknologi. Investor perlu memahami tren industri untuk membuat keputusan yang lebih tepat.

Pengembalian Investasi (ROI) tetap menjadi metrik favorit dalam menilai profitabilitas. Dengan rumus sederhana, ROI membantu membandingkan berbagai peluang secara cepat dan mudah. Namun, keterbatasannya membuat ROI perlu digunakan bersama metrik lain agar hasil analisis lebih akurat.

Baik digunakan untuk saham, properti, bisnis, hingga pemasaran, ROI memberi gambaran jelas tentang efisiensi penggunaan modal. Dalam era modern, variasi ROI seperti SROI dan ROI digital semakin memperluas cakupan penerapan metrik ini.

Bagi investor maupun pebisnis, memahami ROI bukan hanya soal angka, tetapi juga soal strategi dalam memaksimalkan keuntungan sambil mengelola risiko.

(seo)

No more pages