Padahal, dari sisi operasional, EMAS masih mencatat rugi. Dengan harga yang premium, menurut analis Kiwoom, investor hanya bisa berharap pada potensi cadangan tambang besar di masa depan.
Senada, Tim Riset Stockbit Sekuritas menyebutkan EMAS akan memiliki valuasi PBV sekitar 4–5,3x berdasarkan laporan keuangan per kuartal I-2025.
“Perhitungan valuasi berdasarkan P/E tidak dapat dilakukan karena perseroan masih mencatatkan rugi bersih dalam 3 tahun terakhir,” tulis tim riset.
Dari sisi enterprise value (EV), EMAS juga diperdagangkan paling mahal berdasarkan EV/Reserves, yakni 15,4x–24,7x. Angka ini jauh dibandingkan emiten sejenis yakni PSAB yang berada di 6,9x, ARCI 7,7x dan BRMS di posisi 14,6x.
Sebagai informasi, EMAS berencana melepas hingga 1,62 miliar saham baru atau setara 10% dari jumlah saham ang dicatatkan, dengan nilai nominal Rp150 per saham. Harga penawaran dipatok di Rp2.880/saham, sehingga perusahaan berpotensi meraup dana segar maksimal Rp4,67 triliun dari hajatan IPO ini.
Sebagian besar dana hasil penghimpunan modal akan digunakan untuk melunasi kewajiban kepada induk usaha, PT Merdeka Copper Gold Tbk., senilai US$260 juta atau sekitar Rp4,26 triliun. Selain itu, sekitar US$20 juta (Rp328,4 miliar) akan dialokasikan ke PT Pani Bersama Tambang, dan jumlah yang sama ke PT Puncak Emas Tani Sejahtera sebagai tambahan modal kerja.
Dalam aksi korporasi ini, perseroan menunjuk PT Indo Premier Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk., PT Sinarmas Sekuritas, PT UOB Kay Hian Sekuritas, Aldiracita Sekuritas Indonesia, OCBC Sekuritas Indonesia dan Amantara Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Adapun periode penawaran umum berlangsung 17—19 September, sebelum saham perdana resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 23 September 2025.
Bukukan rugi sejak 2022
Berdasarkan Prospektus yang diterbitkan, EMAS masih belum beranjak dari zona rugi sejak 2022. Hingga kuartal I-2025, perseroan mencatat kerugian periode berjalan sebesar US$9,21 juta, menandakan beban yang semakin berat di tengah absennya pendapatan operasional.
Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan kerugian pada periode yang sama tahun lalu yang hanya US$4,17 juta. Tren negatif ini memperpanjang catatan merah perusahaan, setelah sepanjang 2024 MGR juga menanggung rugi hingga US$12,70 juta. Pada 2023, perseroan masih mencatat defisit senilai US$6,83 juta.
Membengkaknya kerugian kuartal pertama 2025 terutama disebabkan nihilnya pemasukan. Prospektus mengungkapkan MGR tidak memperoleh pendapatan sama sekali, mengulang kondisi serupa pada tahun buku 2022.
Meski begitu, perusahaan tetap memiliki basis aset yang cukup besar. Per Maret 2025, MGR membukukan total aset senilai US$543,30 juta dengan ekuitas US$263,30 juta.
Di sisi lain, kewajiban juga tidak kecil. Total liabilitas MGR mencapai US$280,09 juta, terdiri atas utang jangka panjang sebesar US$202,09 juta serta kewajiban jangka pendek senilai US$77,91 juta.
(dhf)



























