Menurut BMI, produksi beras India telah meningkat sebesar 8,8% year on year (yoy) pada 2024/2025 mencapai 150 juta ton dari 138 juta ton pada 2023/2024. Meskipun demikian, perkiraan BMI untuk periode 2025/2026 menunjukkan peningkatan yang lebih kecil sebesar 0,5% yoy hingga mencapai 151 juta ton.
“Ini tetap akan menjadi panen yang memecahkan rekor, menyoroti kelebihan pasokan yang berkelanjutan di pasar dan memperkuat ekspektasi kami akan harga yang stabil hingga akhir tahun [2025] dan hingga 2026,” papar BMI.
BMI menjelaskan musim hujan yang sangat kuat di tahun ini merupakan faktor utama yang membentuk prospek optimistis untuk India karena sebagian besar tanaman padi India ditanam selama musim hujan, dengan panen dimulai pada November.
Produksi Meningkat
Sehubungan dengan produksi, secara global BMI memperkirakan produksi akan meningkat sebesar 0,4% yoy dilampaui oleh pertumbuhan konsumsi sebesar 1,8% yoy sehingga menghasilkan surplus pasar yang berkelanjutan, meskipun lebih kecil.
Menurutnya, musim di tahun 2025/2026 akan menjadi musim ketiga berturut-turut dengan tingkat produksi di atas konsumsi. BMI juga meramal produksi akan meningkat menjadi 542 juta ton, konsumsi akan meningkat menjadi 539,4 juta ton, dan neraca pasar akan menurun dari 10,2 juta ton menjadi 2,6 juta ton.
“Kami memperkirakan konsumsi akan meningkat lebih besar daripada produksi yang didorong oleh peningkatan permintaan normal terkait dengan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi serta penurunan tajam harga beras selama beberapa bulan terakhir,” jelas BMI.
Risiko
Dalam jangka pendek, BMI menyebut risiko utama adalah musim hujan India yang sangat kuat dapat merusak panen padi negara tersebut. Meskipun ekspektasi curah hujan di atas rata-rata telah terpenuhi, BMI mencatat kemungkinan ada wilayah dengan curah hujan terlalu tinggi dan pada akhirnya dapat membebani hasil panen.
BMI mencatat potensi kebijakan pemerintah India yang membatasi ekspor, tidak hanya terjadi ketika produksi dalam negeri menurun tetapi juga karena ambisi elektoral atau perkembangan harga domestik. Hal ini merupakan risiko berkelanjutan bagi pasar beras.
India sendiri menyumbang sekitar 25% dari produksi global dan sekitar 35% dari ekspor global, setiap perkembangan di pasar negara tersebut sangat relevan. BMI menandai ketergantungan yang berlebihan pada panen negara tersebut sebagai risiko bagi harga, yang membuatnya sangat rentan.
Pada tahun depan, BMI menyoroti surplus pasar yang lebih kecil untuk musim 2025/2026 juga menghadirkan risiko penurunan bagi pasar dan dapat meredam sentimen bearish. “Karena surplusnya relatif kecil, pasar lebih rentan terhadap potensi dukungan harga jika ekspektasi untuk musim 2025/20226 memburuk atau prakiraan untuk musim 2026/2027 menyatakan panen kecil,” tulis BMI.
Sejalan dengan hal tersebut, BMI melaporkan stok awal pada 2026/2027 diperkirakan akan turun di tingkat global sebesar 0,3% yoy dengan penurunan 1,1% yoy di India.
Prospek Jangka Panjang
BMI berpandangan pasar beras akan tetap surplus hingga 2028/2029, sementara kondisi cuaca yang tidak menguntungkan di pasar-pasar produsen utama tetap menjadi risiko dan akan mengakibatkan penurunan produksi pada musim-musim tertentu.
Dari sisi permintaan, BMI meramal pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan di Asia akan menghasilkan peningkatan diversifikasi pola makan sehingga membebani tingkat konsumsi beras per kapita di kawasan tersebut dalam jangka menengah.
Selain itu, prakiraan PBB menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan penduduk di Asia yang selanjutnya berkontribusi pada ekspektasi BMI akan penurunan permintaan beras di Asia.
Di sisi lain, BMI meyakini Afrika Sub-Sahara (SSA) akan menjadi pendorong utama konsumsi beras dunia dan permintaan impor. Dia menjelaskan data FAO menunjukkan bahwa konsumsi beras dan produk beras per kapita di seluruh Afrika meningkat dari 34 kg menjadi 37 kg antara 2010 dan 2022. Di Afrika Timur meningkat dari 23 kg menjadi 31 kg pada periode yang sama.
(mfd/wep)































