Logo Bloomberg Technoz

Kontroversi dan Hasil

Kebijakan ini segera menuai kritik. Di Kongres, ia dituduh merusak disiplin fiskal. Di kalangan bisnis, Eccles dicap sosialis, bahkan fasis. Roosevelt pun dituduh membangun “American fascism.” Namun sejarah membuktikan sebaliknya: kebijakan yang kontroversial itu justru menjadi fondasi stabilitas baru bagi Amerika.

Dalam biografi Jumping the Abyss, periode 1933–1939 digambarkan sebagai liminal state: ekonomi tidak lagi krisis parah, tapi juga belum pulih. Eccles mendesak Roosevelt agar berani melompat. “Belanja publik dibiayai utang, untuk infrastruktur, proyek pekerjaan umum, hingga subsidi. Argumennya sederhana: private demand collapsed, sehingga hanya pemerintah yang mampu menciptakan permintaan agregat baru.”

Hasilnya, belanja defisit menjadi sinyal kuat bahwa negara berkomitmen pada pemulihan. Ekspektasi bisnis berubah, konsumsi meningkat, dan ekonomi beranjak pulih.

Indonesia dan Dilema Purbaya

Situasi serupa kini dihadapi Indonesia. Kas negara menumpuk dalam bentuk SAL dan idle balance, sementara konsumsi dan investasi masih lemah. Arsitektur lama, yakni UU Keuangan Negara 2003 dan UU Perbendaharaan Negara 2004, lahir dari trauma krisis dan menekankan fiscal conservatism yang ketat.

Artikel ini menegaskan, “Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kini memikul dilema Eccles di zamannya: bagaimana menjadikan kas negara bukan sekadar saldo, melainkan fiscal valve yang menghidupkan denyut ekonomi.”

Kebijakan penempatan dana pemerintah di bank komersial melalui KMK 276 menjadi sinyal perubahan. Layaknya TT&L, kebijakan ini dipandang tak lazim. Namun sejarah Eccles menunjukkan, langkah berani kadang justru dibutuhkan ketika aturan lama tak lagi memadai.

Empat Pelajaran dari Eccles

Ada empat pelajaran kunci bagi Indonesia dari pengalaman Eccles. Pertama, koordinasi fiskal–moneter mutlak. “Fiscal activism tanpa dukungan bank sentral hanya akan berhenti di angka, bukan berdampak pada riil.”

Kedua, timing. “Ketika output gap besar dan inflasi rendah, tambahan likuiditas menjadi pemantik produksi, bukan ancaman stabilitas.”

Ketiga, institusionalisasi dan transparansi. “TT&L berhasil karena dilembagakan; kebijakan penempatan dana pemerintah juga harus dibuat jelas dan terbuka.”

Keempat, narasi pro-growth. “Eccles berhasil karena ia bisa meyakinkan publik dan Kongres bahwa defisit adalah obat, bukan racun.”

Menyalakan Api Pertumbuhan

Indonesia kini berada di persimpangan yang sama. “Arsitektur hukum lama lahir dari trauma, dan dulu ia berfungsi sebagai pagar. Tetapi pagar yang sama kini menahan air yang seharusnya menghidupi sawah.”

Bagi Purbaya, pilihannya sederhana tapi berat: “berani menyalakan api pertumbuhan, atau membiarkan ekonomi terus berjalan lemas.”

Sejarah memberikan pelajaran, “keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa besar kas negara tersimpan aman, tetapi oleh seberapa besar kepercayaan publik bahwa negara hadir untuk menggerakkan ekonomi.”

Itulah inti dari reflasi fiskal: bukan sekadar menggeser saldo, melainkan menggeser harapan.

(red)

No more pages