Tekanan tambahan Trump terhadap aliansi tersebut muncul saat AS bersiap mendesak sekutu-sekutunya di G7 untuk memberlakukan tarif setinggi 100% terhadap China dan India atas pembelian minyak Rusia mereka.
Pelaku pasar juga memantau perkembangan di Timur Tengah setelah Israel menyerang Qatar pekan lalu, serta serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak dan pelabuhan Rusia. Pada akhir pekan, pesawat nirawak menyerang kilang Kinef, milik Surgutneftegas dan salah satu yang terbesar di negara tersebut, dengan kapasitas tahunan lebih dari 20 juta ton.
"Kebuntuan Ukraina merupakan faktor kunci di pasar minyak dan risiko langsungnya ialah kenaikan harga akibat potensi sanksi tambahan dan serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur ekspor minyak Rusia," kata Vandana Hari, pendiri firma analisis pasar Vanda Insights di Singapura.
Harga minyak diperdagangkan dalam kisaran kurang dari US$5 per barel hampir sepanjang bulan lalu. Harga terombang-ambing oleh kekuatan antara risiko geopolitik dan fundamental bearish, yang mendorong para hedge fund memangkas posisi bullish mereka terhadap minyak mentah AS ke level terendah sepanjang sejarah.
OPEC+ sudah mulai mengurangi produksi minyak yang terhenti lebih cepat dari jadwal—sehingga Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan rekor surplus tahun depan.
"Ekspektasi kelebihan pasokan memberikan tekanan ke bawah, tetapi hanya ketika berita Ukraina mereda," ungkap Hari.
Harga:
- Brent untuk pengiriman November sedikit berubah level US$67,04 per barel pada pukul 08.29 pagi di Singapura.
- WTI untuk pengiriman Oktober naik 0,1% menjadi US$62,78 per barel.
(bbn)






























