Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg melaporkan pada Jumat bahwa AS berencana mendesak sekutu di G-7 untuk mengenakan tarif hingga 100% terhadap China dan India karena membeli minyak Rusia, sebagai bagian dari upaya membujuk Putin untuk menghentikan invasi Rusia ke negara tetangganya.  

"Ini, ditambah NATO sebagai kelompok, memberlakukan tarif 50% hingga 100% terhadap China, yang akan sepenuhnya dicabut setelah perang dengan Rusia dan Ukraina berakhir, juga akan sangat membantu mengakhiri perang yang mematikan, tetapi konyol, ini," tulis Trump. 

Trump terkadang bersikap lebih lunak terhadap China saat ia terus mendesak pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dan kesepakatan dagang dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Langkah apa pun untuk menjatuhkan sanksi pada China kemungkinan besar akan memicu balasan kuat dari Beijing dan mengganggu gencatan senjata sementara perang dagang antara AS dan China. 

Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dijadwalkan bertemu dengan pejabat China di Madrid dalam beberapa hari ke depan. Para Menteri Keuangan G-7 membahas cara meningkatkan tekanan terhadap Rusia dalam pertemuan pada Jumat.

Hingga saat ini, Trump menolak untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia, sembari mengejar pembicaraan damai dengan Putin. Namun, setelah mengadakan KTT dengan Putin di Alaska yang gagal menghentikan operasi militer Rusia di Ukraina, Trump tidak bisa mengatur pertemuan tiga arah dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

Dalam beberapa hari terakhir, semakin banyak tanda bahwa kesabaran Trump terhadap Putin mulai menipis, terutama setelah Rusia melancarkan serangan udara dramatis selama beberapa hari di Kyiv usai pertemuan di Alaska.

"Seperti yang Anda ketahui, komitmen NATO untuk MENANG jauh di bawah 100%, dan pembelian minyak Rusia oleh beberapa negara sangat mengejutkan! Hal ini sangat melemahkan negosiasi dan daya tawar Anda terhadap Rusia," imbuhnya. 

Presiden Hungaria Viktor Orban, sekutu Trump yang juga menjalin hubungan dekat dengan Putin, menunjukkan sedikit kemauan untuk mengubah penolakannya terhadap sanksi terhadap minyak Rusia.

Negara tersebut memiliki kontrak dengan Gazprom PJSC Rusia untuk 4,5 miliar meter kubik per tahun yang berlaku hingga 2036, yang telah ditambah dengan pembelian tambahan sejak 2022.

(bbn)

No more pages