Mayoritas dari sekitar US$300 miliar aset Rusia yang dibekukan berada di Eropa.
Harga minyak Brent berjangka memperpanjang kenaikan usai laporan ini, sempat menyentuh level tertinggi harian, dan ditutup naik 0,8%. Euro melemah ke posisi terendah harian sebelum akhirnya stabil di sekitar US$1,1734 pada perdagangan sesi New York, Jumat.
Juru bicara Gedung Putih belum memberikan komentar terkait proposal tersebut.
Secara terpisah, sejumlah pejabat senior AS telah membicarakan dengan mitra Eropa mengenai opsi untuk secara bertahap menyita aset Rusia yang dibekukan guna menambah tekanan pada Moskow agar bersedia bernegosiasi, menurut sumber yang enggan disebutkan namanya.
Saat ini, keuntungan dari aset itu dipakai untuk memberikan pinjaman kepada Ukraina.
Kanada, selaku ketua G-7 tahun ini, pada Jumat menggelar pertemuan menteri keuangan guna “membahas langkah lebih lanjut untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia dan membatasi mesin perangnya,” menurut pernyataan resmi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam diskusi darurat tersebut menegaskan kembali seruan Trump bahwa “jika benar-benar berkomitmen mengakhiri perang di Ukraina, negara-negara G-7 harus ikut menerapkan tarif terhadap negara yang membeli minyak Rusia,” menurut pernyataan Departemen Keuangan AS.
Bessent bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyambut baik komitmen untuk “mengeksplorasi penggunaan aset kedaulatan Rusia yang dibekukan guna lebih mendukung pertahanan Ukraina,” menurut pernyataan yang sama.
Proposal AS mencakup penerapan tarif sekunder 50% hingga 100% terhadap China dan India, serta pembatasan perdagangan ekspor-impor untuk menekan arus energi Rusia dan mencegah transfer teknologi ganda ke Moskow.
Namun, langkah ini berpotensi menghadapi hambatan mengingat sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Hungaria, menolak sanksi lebih ketat yang menyasar sektor energi Rusia. Kebijakan semacam itu membutuhkan persetujuan seluruh anggota.
Trump telah menyampaikan kepada pejabat Eropa bahwa dia bersedia menjatuhkan tarif baru secara luas terhadap India dan China untuk menekan Putin ke meja perundingan dengan Ukraina—tetapi hanya jika negara-negara Eropa melakukan hal serupa.
Trump menyampaikan usulan itu saat ikut serta lewat sambungan telepon dalam pertemuan dengan pejabat senior AS dan Uni Eropa di Washington pekan ini. Menurut laporan Bloomberg, Trump mengatakan AS bersedia mencerminkan tarif yang diterapkan Eropa terhadap kedua negara tersebut.
Usulan itu muncul setelah tenggat waktu yang diberikan Trump kepada Putin untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berlalu tanpa tanda-tanda ketertarikan dari pihak Moskow. Sebaliknya, Rusia justru meningkatkan serangan udara ke Ukraina.
Rusia pada Jumat menyatakan pembicaraan dengan Ukraina dalam kondisi “ditangguhkan,” meski Trump sebelumnya mendorong pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskiy.
Proposal ke G-7 juga mencakup sanksi terhadap armada kapal tanker “bayangan” Rusia dan jaringan pendukungnya, perusahaan minyak Rosneft PJSC, serta larangan layanan asuransi untuk transportasi laut.
AS juga akan mendesak sekutunya menjatuhkan sanksi terhadap entitas yang mendukung industri militer Rusia; bank regional Rusia; serta melarang layanan terkait kecerdasan buatan dan teknologi finansial di kawasan ekonomi khusus Rusia, menurut proposal tersebut.
Sejauh ini, Trump menahan diri untuk tidak menjatuhkan sanksi langsung terhadap Rusia, meski sudah berulang kali melewati tenggat yang dia tetapkan sendiri dan di tengah sikap Putin yang enggan bernegosiasi mengakhiri perang.
Namun, Trump telah menggandakan tarif terhadap India menjadi 50% karena negara itu terus membeli minyak Rusia.
Diskusi G-7 ini berlangsung di saat Uni Eropa tengah merancang paket sanksi ke-19, yang diperkirakan akan menargetkan lebih banyak bank Rusia dan perdagangan minyak negara itu, menurut laporan sebelumnya Bloomberg.
(bbn)





























