Logo Bloomberg Technoz

Shopee ada di puncak dengan skor 53,22% di survei APJII 2025, naik dibandingkan tahun lalu yakni 41,65%. TikTok Shop berada di peringkat kedua, skor penilaiannya tahun ini 27,37% atau naik dari 12,2%. Ketiga, Tokopedia dengan skor 9,57%, naik tipis dari 9,4%. Diikuti Lazada 9,09% namun skornya turun dari sebelumnya 17,54%.

Gambaran dominasi platform e-commerce asing jauh meninggalkan pencapaian Blibli di kandang sendiri, menunjukkan bagaimana keberhasilan strategi inovasi Shopee (bagian Sea Ltd.) 

“Inovasi (dari Shopee) tidak hanya kepada pembeli, tetapi juga kepada penjual dan kreator,” kata Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Izzudin Al Farras kepada Bloomberg Techoz, Kamis (11/9/2025).

Ia menjabarkan beberapa inisiatif termasuk yang terbaru program afiliasi bersama YouTube Shopping dan pola kemitraan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal untuk mempermudah proses sertifikasi halal bagi UMKM.

“Namun, faktor paling utama dari peningkatan Shopee tersebut justru karena tidak mulusnya integrasi Tiktok Shop dan Tokopedia pasca merger dan akuisisi kedua platform tersebut,” jelas dia.  Ketidaknyamanan pengguna Tokopedia selama proses integrasi dua sistem menjadi satu yakni New Tokopedia “menyebabkan sebagian konsumen pindah ke Shopee.”

Izzudin menambahkan bahwa terdapat berbagai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi e-commerce milik asing merajai platform e-commerce di Tanah Air, seperti Shopee dan TikTok Shop, sekaligus alasan mengapa Blibli belum mampu merangsek pasar perdagangan elektronik ini atau menjadi salah satu e-commerce di urutan bawah.

Salah satu faktor utamanya adalah efek keringnya likuiditas di dalam negeri dan faktor tingginya tingkat suku bunga acuan bank sentral dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuat pemodal (perusahaan ventura) lokal “memiliki kemampuan relatif terbatas dalam memberikan pendanaan terhadap startup seperti e-commerce ketimbang kemampuan pendanaan dari pemodal di tingkat global.

Dia pun menyebut bahwa tantangan utama e-commerce di Indonesia ke depannya terletak pada makin menantangnya pasar dalam negeri karena adanya pelemahan daya beli bagi kelas menengah dan bawah. Di sisi lain, kelas atas cenderung menyimpan uangnya ketimbang berbelanja di platform perdagangan elektronik.

“Dengan demikian, sejumlah platform e-commerce harus berebut pasar yang tidak prospektif tersebut,” tandas Izzudin.

Merespons data Momentum Works dan hasil survei APJII, Nathaniel Naldo Widjaja Investor Relations PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), perusahaan yang menaungi Blibli, menyatakan perusahaan terus berjuang meningkatkan nilai transaksi bersih (Total Processing Value/TPV).

Blibli juga “mendorong kinerja marjin sekaligus tetap fokus pada efisiensi baik dari sisi pemasaran maupun operasional,” jelas Nathan saat berbincang dengan Bloomberg Technoz, Kamis. Blibli menegaskan kinerjanya masih dalam tren positif meski situasi persaingan di industri masih ketat di tengah tantangan ekonomi.

Pada akhir tahun lalu induk Blibli melaporkan masih mencatatkan rugi berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,53 triliun. Sementara realisasi pendapatannya tercatat mengalami kenaikan 13,7% dibanding 2023 Rp14,7 triliun.

Jika dibedah mendalam kontribusi omzet terbesar BELI ada pada pendapatan ritel online sebesar Rp7,3 triliun, kemudian pendapatan toko fisik dan institusi dengan nilai sama-sama Rp5,6 triliun. Namun terdapat alokasi diskon dan promosi terakumulasi Rp2 triliun, hingga catatan omzet secara neto tembus Rp16,71 triliun.

Hingga paruh pertama 2025 data total penjualan BELI berada di Rp9,5 triliun atau naik 22,2% yoy, dengan meraih rugi bersih Rp1,25 triliun. Rugi Blibli pun tercatat naik 4,4%.

Mari kita bandingkan dengan Shopee. Dalam tiga bulan hingga Juni pendapatan divisi terbesar dari Sea Ltd. tersebut tercatat US$3,8 miliar atau naik 34%. Hasil ini sebagian berkat komisi dan pendapatan iklan yang melonjak. Shopee juga mencatatkan kenaikan GMV hampir 30% selama periode kuartal terakhir.

Hasil ini semakin menegaskan Shopee adalah "mesin uang" Sea Ltd. karena kontribusinya yang dominan. Pada kuartal yang berakhir Juni pula tercatat omzet Sea Ltd. US$5,26 miliar, juga naik 38%.

4 Platform E-commerce Besar

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa kemampuan bersaing berbagai platform perdagangan secara elektronik kecil di luar empat raksasa e-commerce di Indonesia makin sirna. Airlangga tak menyebut keempat e-commerce itu.

Isu yang disampaikan Airlangga di sela-sela Kick-Off Road to Harbolnas 2025 harus menjadi catatan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. Para platform kecil kalah saing terutama di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kemudian, algoritmanya dari platform-platform ini pun tampak tertinggal dari para raksasanya. 

“Sehingga ini yang membuat bisnis ini juga menjadi sangat capital intensive (padat modal),” terang Airlangga.

*) Artikel ini mendapat update pernyataan dari perusahaan yang menaungi Blibli, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI).

(far/wep)

No more pages