Rupiah mampu menguat di tengah arus penguatan dolar AS yang begitu deras. Siang hari ini di pasar Asia, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) tengah menguat 0,34% ke 97,787.
Sepanjang tahun 2025 ini, rupiah keluar sebagai mata uang Asia dengan kinerja terlemah dan terlesu dengan pelemahan 2,18% year–to–date, di tengah capaian kinerja valuta Asia yang mayoritas menguat pada periode yang sama.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak reli mengesankan dengan penguatan mencapai 0,92% sejurus dengan arus pembelian yang kembali masif di saham–saham berkapitalisasi besar, terutama dari saham perbankan.
Saham BBCA, BBRI, BMRI hingga BBNI, juga saham konglomerat Prajogo Pangestu seperti BREN, BRPT, serta saham CDIA yang menopang penguatan IHSG.
Sementara di pasar surat utang negara, berdasarkan pantauan data realtime di OTC Bloomberg, mayoritas harga obligasi negara menguat ditandai dengan penurunan tingkat imbal hasil.
Yield tenor 1 tahun turun 1,9 bps ke level 5,336%. Sedang tenor 2 tahun bahkan turun 5,2 bps yang saat ini ada di 5,423%. Begitu juga tenor 5 tahun turun yield–nya 9,2 bps menyentuh 5,773%.
Sementara tenor panjang 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun terpangkas masing–masing -1,4 bps, 0,3 bps, dan 0,8 bps di level 6,426%, 6,837%, dan 6,910%.
Berbalik menguatnya rupiah terutama karena faktor dari dalam negeri di mana pemodal asing terindikasi mulai kembali berbelanja di bursa saham setelah dua hari perdagangan beruntun mencetak net sell.
Sedang di pasar surat utang, sepertinya investor mulai masuk lagi melihat tingkat imbal hasil yang sudah menarik.
Membaiknya sentimen di pasar keuangan RI hari ini menghentikan tekanan yang berlangsung dalam dua hari beruntun semenjak pengumuman reshuffle Kabinet Merah Putih Prabowo–Gibran, termasuk penggantian Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Selain itu, pasar juga relatif mulai tenang menyusul pernyataan Menteri Keuangan baru Purbaya Yudhi Sadewa yang berjanji akan memastikan defisit fiskal Indonesia tak melampaui batas atas 3%.
Purbaya memastikan defisit APBN bakal tetap dijaga sembari menepis keraguan sebagian pihak soal pengelolaan keuangan negara ke depan.
“Kita akan ikutin Undang-undang yang ada. Itu kan bukan keputusan saya, itu keputusan pemerintah secara keseluruhan,” papar Purbaya usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta.
Purbaya, Kementeriannya bakal mengoptimalkan belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, kata dia, rasio utang terhadap PDB bisa stabil.
Sejalan dengan hal tersebut, Purbaya memastikan koordinasi dengan otoritas moneter akan diperkuat agar kebijakan fiskal dan moneter tidak saling menekan terlebih dalam menjaga likuiditas sistem keuangan.
“Saya sudah bicara sama Deputi Senior BI dengan izin Presiden juga, ke depan kita akan mengambil langkah-langkah yang perlu,” tuturnya.
(fad/aji)


























