Para peneliti memulai dengan menganalisis catatan rumah sakit dari 56,5 juta pasien Medicare di AS. Dalam penelitiannya, para ilmuwan memperkirakan paparan jangka panjang mereka terhadap polusi PM2.5, partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 ribu milimeter.
Partikel ini dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru dan ditemukan dalam aliran darah, otak, serta organ lainnya.
Mereka menemukan bahwa paparan jangka panjang terhadap PM2.5 meningkatkan risiko demensia Lewy body, tetapi memiliki dampak yang lebih kecil terhadap tingkat penyakit otak neurodegeneratif lain yang tidak dipicu oleh protein beracun.
Untuk melihat apakah polusi udara dapat memicu Lewy body, tim mengekspose tikus pada polusi PM2.5 setiap dua hari selama 10 bulan. Beberapa tikus normal, sementara yang lain dimodifikasi secara genetik agar tidak menghasilkan alfa-sinuklein. Hasilnya sangat mencolok: pada tikus normal, sel saraf mati, menyebabkan penyusutan otak dan penurunan kognitif. Tikus yang dimodifikasi secara genetik sebagian besar tidak terpengaruh.
Penelitian lebih lanjut pada tikus menunjukkan bahwa polusi PM2.5 mendorong pembentukan gumpalan alfa-sinuklein yang agresif, tangguh, dan beracun yang terlihat sangat mirip dengan Lewy body pada manusia. Meskipun penelitian ini dilakukan pada tikus, temuan tersebut dianggap sebagai bukti yang kuat.
Jika menggabungkan keduanya, bagi saya ini menunjukkan adanya keterkaitan yang cukup kuat antara polusi udara dengan penyebab demensia Lewy body. Kami pikir ini adalah faktor pendorong yang sangat penting untuk demensia,” kata Ted Dawson, penulis senior studi tersebut dan profesor penyakit neurodegeneratif di Johns Hopkins.
“Perlu ada upaya bersama untuk menjaga udara kita tetap bersih.”
(spt)






























