Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, aksi demonstrasi kerap dilihat oleh pasar komoditas sebagai sinyal terjadinya risiko pasokan. Walhasil, jika aksi demonstrasi tersebut terus berlanjut dalam jangka panjang hingga memberikan kekhawatiran ketidakstabilan pasokan, harga nikel global diprediksi kian terkerek naik.

Sutopo memandang bahwa keterkaitan nikel dengan industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) membuatnya sangat sensitif terhadap informasi atau berita yang berpotensi mengganggu rantai pasoknya.

“Karena Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia, sentimen yang kuat di sini dapat langsung memengaruhi harga global,” tegas dia.

Berbeda pandangan, analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono memandang aksi demonstrasi yang terjadi di Indonesia belum secara signifikan memberikan memberikan sentimen negatif terhadap pasar dan harga nikel dunia.

Wahyu menjelaskan harga nikel dunia bergerak di sekitar US$12.262 per ton dan dalam jangka pendek pergerakannya cenderung dalam rentang konsolidasi atau sideway.

Dia mengakui aksi demonstrasi yang terjadi memberikan kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan nikel dari Indonesia.

Akan tetapi, dia memandang harga nikel dunia memang cenderung bergerak stabil dalam kisaran tertentu atau perlahan mulai naik lagi meskipun aksi demonstrasi tak terjadi di Indonesia.

“[Hal] yang paling terdampak langsung adalah yang terkait langsung dengan produksi, misalnya bencana alam, demo mogok buruh tambang, penghentian sebagian atau seluruh operasional secara sengaja oleh pihak perusahaan, dan lainnya,” kata Wahyu ketika dihubungi, Rabu (3/9/2025).

Lebih lanjut, Wahyu memandang level support nikel berada di rentang US$14.800/ton hingga US$15.000/ton. Jika level tersebut ditembus, ia prediksi harga nikel global bisa turun menuju US$14.000/ton.

Sementara itu, level resistance terdekat berada di US$16.000/ton, dia menilai harga nikel global harus menyentuh level tersebut agar tren kenaikan bisa berlanjut.

“Prospek nikel dalam jangka menengah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian pasokan dan permintaan dari sektor kendaraan listrik,” tegasnya.

Pergerakan harga nikel./dok. Bloomberg

Untuk diketahui, SMM melaporkan harga nikel memasuki September 2025 kembali menguat, salah satunya dipicu oleh sentimen gelombang demonstrasi di Indonesia yang meredupkan prospek pasokan komoditas mineral logam tersebut.

Di pasar spot, harga nikel olahan SMM #1 diperdagangkan di rentang 123.000—125.600 yuan/metrik ton (mt), dengan rata-rata 124.300 yuan/mt, naik 1.900 yuan/mt dari penutupan pada Jumat pekan lalu.

Kisaran harga premium spot utama untuk nikel olahan Jinchuan #1 adalah 2.100—2.300 yuan/mt, dengan rata-rata 2.200 yuan/mt, turun 100 yuan/mt dari hari ke hari.

Kisaran harga premium/diskon spot untuk merek nikel elektrodeposisi utama domestik adalah -150—300 yuan/mt.

Di pasar berjangka, kontrak nikel SHFE 2510 yang paling banyak diperdagangkan ditutup pada 122.350 yuan/mt pada sesi Senin (1/9/2025) malam, naik 1.050 yuan/mt (0,87%).

“Aksi demonstrasi baru-baru ini di Jakarta, Indonesia, memicu kekhawatiran akan ketatnya pasokan, yang mendorong harga nikel naik secara signifikan,” tulis SMM dalam catatannya, Selasa (2/9/2025).

Di sisi makro, data inflasi dan belanja konsumsi (PCE) Amerika Serikat (AS) juga memengaruhi ekspektasi pasar, sehingga meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara indeks dolar AS berfluktuasi menurun.

Sementara itu, nikel dilego di harga US$15.232/ton pada Rabu (3/9/2025) di London Metal Exchange (LME), terkoreksi 1.34% dari penutupan Selasa.

Adapun, Indonesia tercatat sebagai produsen nikel nomor wahid, dengan kontribusi lebih dari separuh produksi dunia. 

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya cadangan nikel Indonesia berupa bijih mencapai 18,55 miliar ton dengan cadangan bijih nikel mencapai 5,32 miliar ton ini terdiri dari 60% saprolit dan 40% limonit.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengatakan ekspor Indonesia pada 2024 mencapai US$265 miliar, di mana tujuan ke China mendominasi dengan US$62 miliar.

Dari nilai total ekspor Indonesia tersebut, kontribusi produk tambang yaitu olahan nikel mencapai US$8 miliar dan batu bara senilai US$40 miliar. Sementara itu, ekspor ke China didominasi oleh produk olahan nikel sekitar US$19 miliar dan batu bara US$11 miliar.

(azr/wdh)

No more pages