Harga nikel terus menguat di sesi pagi, menetap di 123.350 yuan/mt pada siang hari, dengan kenaikan melebar hingga 1,69%.
“Aksi demonstrasi baru-baru ini di Jakarta, Indonesia, memicu kekhawatiran akan ketatnya pasokan, yang mendorong harga nikel naik secara signifikan,” tulis SMM dalam catatannya, Selasa (2/9/2025).
Di sisi makro, data inflasi dan belanja konsumsi (PCE) Amerika Serikat (AS) juga memengaruhi ekspektasi pasar, sehingga meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara indeks dolar AS berfluktuasi menurun.
“Harga nikel diperkirakan bertahan dengan baik, dengan proyeksi kisaran harga 121.000—125.000 yuan/mt,” kata SMM.
Di London Metal Exchange (LME), sementara itu, nikel dilego di harga US$15.439/ton pada Selasa (2/9/2025), menguat 0,12% dari penutupan Senin.
Sebelumnya, SMM memproyeksikan kelesuan pasar bijih nikel Indonesia berlanjut pada kuartal III-2025, meskipun kondisinya mulai membaik dari tiga bulan sebelumnya, seiring dengan ketatnya persaingan penambang untuk mengisi permintaan smelter di tengah aturan kuota produksi yang baru.
Menurut data SMM, hingga pertengahan Agustus, harga akhir bijih nikel laterit kadar 1,6% bergerak di rentang US$50,5—US$53,8 per ton basah atau wet metric ton (wmt), dengan premi utama sekira US$24—US$26 per wmt.
Nikel laterit kadar 1,3% bergerak di US$25,5—US$27,5 per wmt, dengan rerata penurunan harga sekitar 1,9% dibandingkan dengan periode akhir kuartal II-2025.
Sejalan dengan tren harga bijih yang melembam, pasar mencermati kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengembalikan rentang persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pertambangan dari 3 tahunan menjadi 1 tahunan.
(wdh)






























