Selanjutnya, jenis serangan kedua terbanyak pada semester I-2025 di Indonesia adalah Misc Activity, dengan 22,25% dari total serangan siber pada 6 bulan pertama tahun ini atau 133,4 juta kasus. Sama halnya dengan Generic Protocol Command Decode, jenis serangan Misc Activity persentasenya terpantau naik dibandingkan pada semester I-2024 yang sekitar 20,56%.
Sebagai informasi, Miscellaneous Activity atau Misc Activity mengacu pada aktivitas apapun yang tak mudah dikategorikan ke dalam kategori ancaman tertentu. Istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan perilaku anomali atau mencurigakan pada jaringan atau sistem yang tidak bisa langsung diidentifikasi sebagai jenis serangan tertentu.
Aktivitas lain-lain dapat mencakup pemindaian port, pengintaian jaringan, atau jenis aktivitas lain yang berpotensi digunakan sebagai pendahulu serangan yang lebih serius. Meskipun aktivitas lain-lain mungkin tak langsung mengancam, AwanPintar.id menekankan bahwa penting bagi profesional keamanan siber untuk memantau dan menyelidiki jenis peristiwa ini untuk mencegah potensi ancaman berkembang menjadi serangan yang lebih serius.
Menurut data yang diperoleh dari AwanPintar.id, menunjukkan adanya kenaikan 1,69% dalam deteksi Misc Activity. Walaupun angkanya tidak setinggi kategori lain, peningkatan ini memperlihatkan adanya tren aktivitas mencurigakan yang terus-menerus.
Kategori itu kerap merupakan indikator awal dari upaya penyerang untuk memahami dan memetakan target mereka sebelum meluncurkan serangan yang lebih canggih, misalnya mencari kerentanan atau titik masuk. “Dengan persentase sekitar 20%, Misc Activity merupakan bagian yang cukup stabil dari lanskap ancaman siber, menunjukkan bahwa pengintaian dan pemindaian jaringan adalah aktivitas rutin bagi para penyerang,” tulis laporan AwanPintar.
3. Attempted Information Leak
Kemudian, jenis serangan siber ketiga terbanyak pada semester I-2025 di Indonesia adalah Attempted Information Leak, dengan 4,66% dari total serangan siber pada 6 bulan pertama tahun ini. Selain Generic Protocol Command Decode dan Misc Activity yang mengalami kenaikan, Attempted Information Leak pun persetansenya naik dibandingkan semester I-2024 yakni sekitar 0,20%.
Attempted Information Leak merupakan upaya untuk mengakses atau mengungkap informasi yang seharusnya tak bisa diakses orang yang tidak berhak. Hal ini dapat terjadi saat pelaku mencoba mengambil informasi sensitif seperti akun, data klien, informasi kartu kredit, atau informasi penting lainnya.
AwanPintar menilai kenaikan jenis serangan siber tersebut dinilai sangat besar dari 0,20% menjadi 4,66%, yang berarti peningkatan lebih dari 23 kali lipat dalam upaya kebocoran informasi dalam kurun waktu 1 tahun. Ini adalah peningkatan persentase yang paling mencolok dibanding kategori serangan lain yang telah dianalisis.
Tingginya persentase itu secara eksplisit mengindikasikan bahwa para penyerang makin berfokus pada pencurian data berharga, bukan hanya mengganggu layanan. Upaya kebocoran informasi seringkali didorong oleh motif finansial, misalnya penjualan data di pasar gelap, atau spionase.
“Lonjakan sebesar 4,46% adalah sinyal bahaya serius bagi keamanan data. Ini menunjukkan bahwa meskipun pertahanan awal mungkin telah membaik dalam beberapa aspek, penyerang semakin canggih dalam menembus dan mengekstraksi data. Organisasi harus segera memperkuat strategi pencegahan kebocoran data (Data Leak Prevention), secara berkala melakukan pengecekan di Dark Web, meningkatkan pemantauan lalu lintas keluar, dan mengevaluasi ulang efektivitas kontrol akses serta klasifikasi data mereka,” tulis laporan.
4. Attempted Administrator Privilege Gain
Lalu, jenis serangan siber keempat yaitu Attempted Administrator Privilege Gain, dengan 2,76% dari total serangan siber pada semester I-2025 di Indonesia. Persentasenya turun signifikan daripada periode sebelumnya atau semester I-2024 senilai 43,65%.
Attempted Administrator Privilege Gain adalah upaya untuk mengakses atau mengungkap informasi yang seharusnya tak dapat diakses orang yang tidak berhak. Hal ini dapat terjadi ketika pelaku mencoba mengambil informasi sensitif seperti akun, data klien, informasi kartu kredit atau informasi penting lainnya.
“Terjadi penurunan drastis sebesar -40,89%, dari 43,65% menjadi hanya 2,76%. Ini adalah perubahan persentase yang paling besar dan berlawanan arah dibandingkan kategori serangan lain yang telah dianalisis sebelumnya.”
5. Misc Attack
Jenis serangan siber kelima adalah Misc Attack, dengan 1,49% dari total serangan siber pada semester I-2025 di Indonesia. Sama halnya dengan Attempted Administrator Privilege Gain, persentase Misc Attack mengalami penurunan dibandingkan semester I-2024 yaitu 2,76%.
Misc Attack merupakan jenis serangan yang mengeksploitasi server web yang rentan dengan memaksa server cache atau browser web untuk mengungkapkan informasi kredensial, kata sandi, dan informasi yang disimpan. Atau serangan dengan sifat membajak komunikasi yang tengah dilakukan dan serangan pada Hypertext Transfer Protocol (HTTP).
6. Potentially Bad Traffic
Keenam, jenis serangan siber ini adalah Potentially Bad Traffic, dengan 0,28% dari total serangan siber pada semester I-2025 di Indonesia. Seperti Attempted Administrator Privilege Gain dan Misc Attack, Potentially Bad Traffic mengalami penurunan persentase dibandingkan periode sebelumnya atau semester I-2024 senilai 0,52%.
Potentially Bad Traffic mencakup lalu lintas yang benar-benar di luar kebiasaan, dan berpotensi menunjukkan adanya sistem yang disusupi. Sistem yang dikuasai bisa berakibat fatal bagi perusahaan, pelaku dapat melakukan manipulasi dan eksploitasi tanpa batas.
“Walau persentasenya kecil, Potentially Bad Traffic menandakan ancaman yang sangat serius. Jika sistem sudah disusupi, kontrol penuh oleh penyerang dapat menyebabkan kerugian besar,” kata AwanPintar.id.
7. Detection of a Network Scan
Jenis serangan siber ketujuh yaitu Detection of a Network Scan, dengan 0,04% dari jumlah serangan siber di Indonesia pada semester I-2025. Jenis serangan siber ini pun ikut mengalami penurunan daripada periode sebelumnya yakni 4,74%.
Detection of a Network Scan adalah adanya aktivitas ilegal yang melibatkan pendeteksian semua host aktif di jaringan dan melakukan pemetaan ke alamat Internet Protocol (IP) mereka. Penyerang kerap menggunakannya untuk melakukan pengintaian, sebelum mencoba menembus jaringan.
“Penurunan ini bisa menunjukkan bahwa penyerang tidak lagi terlalu mengandalkan pemindaian jaringan tradisional yang mudah dideteksi. Mereka mungkin beralih ke metode pengintaian yang lebih canggih, tersembunyi, atau low-and-slow yang tidak menghasilkan traffic pemindaian yang jelas, atau menggunakan informasi yang sudah mereka peroleh dari sumber lain (misalnya, melalui kebocoran data atau reconnaissance terbuka),” tulis laporan AwanPintar.
8. A Network Trojan was Detected
Kedelapan, jenis serangan siber ini adalah A Network Trojan was Detected, dengan 0,03% dari total serangan siber pada semester I-2025 di Indonesia. Jenis serangan siber ini turun dibandingkan semester I-2024 yakni senilai 0,08%. Jenis perangkat lunak berbahaya, yang disebut Trojan, telah terdeteksi di komputer atau jaringan (A Network Trojan was Detected), yang dirancang untuk memungkinkan akses tidak sah ke komputer atau jaringan tersebut. Trojan bisa digunakan oleh penjahat dunia maya untuk mengontrol komputer dari jarak jauh, mencuri data sensitif, atau menyebarkan malware lebih lanjut.
Beberapa sumber umum Trojan di antaranya email phishing, drive-by download, dan unduhan perangkat lunak dari sumber yang tak tepercaya. “Meskipun persentasenya rendah dan menurun, Trojan tetap merupakan ancaman serius karena kemampuannya untuk memberikan akses jarak jauh dan mencuri data. Angka yang kecil bukan berarti tidak ada risiko, melainkan bahwa deteksinya mungkin lebih sulit atau serangan ini lebih tersembunyi.”
9. A Suspicious File Name was Detected
Berikutnya atau jenis serangan siber kesembilan yaitu A Suspicious File Name was Detected, dengan 0,03% dari jumlah serangan siber pada 6 bulan pertama tahun ini di Indonesia. Persentasenya naik dibandingkan pada periode sebelumnya yakni 0,01%. A Suspicious File Name was Detected merupakan salah satu mekanisme penting yang digunakan untuk menjaga keamanan sistem dan data penting yang terintegrasi adalah deteksi berkas mencurigakan. Deteksi ini adalah proses dalam menangani berkas mencurigakan.
Berkas-berkas ini berisi kode, skrip, lampiran, atau tautan unduhan yang berpotensi menyebabkan kerusakan atau membahayakan keamanan sistem secara keseluruhan. “Peningkatan sebesar 0,02% ini menunjukkan bahwa deteksi berkas mencurigakan meningkat hingga tiga kali lipat. Ini mengindikasikan adanya peningkatan upaya penyerang dalam menggunakan berkas sebagai vektor infeksi.”
10. Suspicious Traffic
Jenis serangan siber ke-10 adalah Suspicious Traffic, dengan 0,02% dari total serangan siber pada semester I-2025 di Indonesia. Persentasenya tampak turun daripada periode sebelumnya atau semester I-2024 yaitu 0,07%. Klasifikasi deteksi Suspicious Traffic bisa menyesatkan. Aturan yang dikategorikan sebagai mencurigakan dapat bersifat berbahaya dan mengindikasikan adanya gangguan.
Sifat lalu lintas yang didefinisikan sebagai mencurigakan bergantung pada situasi di mana lalu lintas tersebut ditemukan. “Data dari AwanPintar menunjukkan adanya penurunan pada deteksi Suspicious Traffic di Indonesia yakni -0,05. Meskipun persentasenya kecil dan menurun, Suspicious Traffic tetap merupakan indikator potensi masalah.” “Tim keamanan harus tetap waspada dan menyelidiki setiap deteksi ini secara mendalam untuk memastikan tidak ada ancaman tersembunyi yang terlewat,” sambung mereka dalam laporannya.
(far/wep)































