Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan rupiah hari ini juga menyeret kinerja mata uang Indonesia itu terpukul 1,18% year-to-date, persis di belakang rupee India yang ambrol hingga 2,31% sepanjang tahun 2025 ini.

Sementara menghitung periode 12 bulan perdagangan terbaru, rupiah sudah melemah nilainya mencapai 5,31% dan sempat menyentuh level terlemah penutupan di Rp16.870/US$ pada April lalu.

Pelemahan rupiah hari ini berlangsung bersamaan dengan mata uang Asia lain yang juga tertekan ganasnya dolar AS. Won Korea memimpin pelemahan dengan terdepresiasi mencapai 0,44%, disusul oleh dolar Taiwan yang melemah 0,34% dan ringgit Malaysia yang merah 0,28%.

Kinerja Valuta Asia (Bloomberg)

Sementara rupiah terjerembab di kelompok pelemahan yang lebih lesu daripada peso Filipina yang terdepresiasi 0,23%, lalu rupee India (0,09%), yuan China (0,08%), baht Thailand (0,05%), juga yuan offshore (0,04%) dan dolar Singapore (0,02%).

Mata uang Asia sebagian memang terbebani oleh manuver Presiden Donald Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif baru serta pembatasan ekspor terhadap teknologi canggih dan semikonduktor.

Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru dan pembatasan ekspor terhadap teknologi canggih serta semikonduktor sebagai bentuk balasan terhadap pajak layanan digital dari sejumlah negara yang dinilai merugikan perusahaan teknologi Amerika.

Ancaman terbaru ini kembali menambah ketidakpastian terkait tarif dagang AS terhadap mitra dagangnya.

Pernyataan Trump muncul sepekan setelah AS dan Uni Eropa (UE) sepakat melalui pernyataan bersama untuk bersama-sama “Mengatasi hambatan perdagangan yang tidak adil,” dan “Tidak memberlakukan bea masuk pada transmisi elektronik.” Uni Eropa juga menegaskan tidak akan memberlakukan biaya penggunaan jaringan.

Sentimen bearish bertambah kuat setelah dolar AS yang terus menguat. Pada pukul 16.25 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) menguat 0,63% point–to–point ke posisi 98,335.

DXY (Sumber: Bloomberg)

Dolar AS tetap perkasa meski Bank Sentral Federal Reserve kemungkinan besar bakal menurunkan suku bunga acuan pada pertemuan berikutnya. Mengutip CME FedWatch, probabilitas penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4–4,25% dalam rapat 17 September mencapai 84,3%.

Namun, sepertinya penurunan suku bunga acuan ini sudah masuk hitungan pasar. Sudah Priced–In. Oleh karena itu, dolar AS masih bisa berjaya meski dibayangi prospek penurunan suku bunga.

Mengutip riset analis Panin Sekuritas Felix Darmawan siang hari ini, tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump makin menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Dalam risetnya, Felix menyebut, Chairman The Fed Jerome Powell memberi sinyal The Fed bisa mulai memangkas suku bunga September 2025, namun tetap hati-hati karena inflasi masih di atas target dan pengangguran naik ke 4,2%.

“Risalah FOMC menunjukkan fokus utama pejabat The Fed masih pada risiko inflasi, meski pasar tenaga kerja melemah,” jelasnya.

Ruang pelonggaran suku bunga The Fed terbuka, namun tetap dibayangi faktor kehati-hatian. Felix turut mempertahankan proyeksi pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate sebesar total 50 bps pada sisa 2025, dimulai dengan penurunan 25 bps di September.

(fad/aji)

No more pages