Logo Bloomberg Technoz

Rupiah dan mata uang Benua Kuning masih terjebak di zona merah imbas dolar AS yang kembali tangguh. Siang hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) lanjut menguat ke posisi 98,470.

Dalam sepekan, atau dalam 5 hari perdagangan, indeks ini kembali menguat 0,21% secara point–to–point. Selama sebulan ke belakang, DXY masih merah 0,49%.

Dolar AS sedang menguat di tengah sentimen rilis data inflasi utama Amerika Serikat (AS) yang dicemaskan pasar dapat mengganggu laju pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Dollar Index (Sumber: Bloomberg)

Euforia terhadap prospek pemangkasan suku bunga The Fed mulai mereda, hanya beberapa hari setelah Gubernur The Fed Jerome Powell memberi sinyal pemangkasan suku bunga pada September sangat mungkin dilakukan saat risiko pelemahan pasar tenaga kerja.

Namun, keraguan terhadap kecepatan penurunan suku bunga masih membayangi pasar keuangan, terutama menjelang rilis data harga pekan ini, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Bank Sentral AS masih menghadapi inflasi yang bertahan di atas target 2% — bahkan cenderung meningkat — di saat pasar tenaga kerja menunjukkan tanda–tanda pelemahan. Situasi ini membuat arah kebijakan moneter semakin sulit diprediksi.

“Sekarang pembahasan kemungkinan akan beralih pada seberapa agresif langkah The Fed,” kata Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley.

“Sinyal perlambatan pasar tenaga kerja tampaknya lebih dominan ketimbang kecemasan inflasi, namun The Fed belum meninggalkan target 2%.”

(fad/aji)

No more pages