Hal itu, kata dia, dikarenakan masih berlangsungnya proses negosiasi negara-negara lain soal pengenaan tarif oleh Negeri Paman Sam yang kini juga semakin meluas dari semula menyasar 44 negara, kini menjadi 70 negara.
"Seperti India dan Swiss lebih tinggi dari pengumuman semula. Implementasi tarif resiprokal AS tersebut menimbulkan risiko akan semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia," tutur dia.
Sebelumnya, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan kinerja ekspor dalam negeri sepanjang paruh kedua tahun ini kan mengalami penurunan.
Dosen Sekaligus Peneliti Senior LPEM UI Vid Adrison mengatakan, hal itu disebabkan lantaran sejumlah kalangan pengusaha, investor, dan eksportir telah lebih dahulu memacu kinerja para paruh pertama.
"Dari investasi, misalnya, kalau itu kita sudah ngeluarin besar di awal, berikutnya kira-kira gimana? Exactly, jadi mereka nggak akan mengeluarkan [dana] yang besar lagi. jadi setelah itu akan melalui perlambatan," ujar dia dalam diskusi sebuah podcast LPEM UI, belum lama ini.
Adrison mengatakan penurunan tersebut akan membuat kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun ini tidak akan sampai menyentuh 5%, yang turut didorong oleh kelanjutan efisiensi anggaran pemerintah.
BPS sebelumnya melaporkan total nilai ekspor pada Juni 2025 tercatat US$23,44 miliar atau naik 11,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding juni 2024. Secara akumulasi, sepanjang Januari-Juni 2025, total nilai ekspor tercatat US$135,41 miliar atau naik 7,7%.
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim kenaikan ekspor kuartal II-2025 dipicu adanya aksi eksportir melakukan front loading karena mewaspadai ketidakpastian terkait negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang berlangsung sejak April lalu.
Gejolak tersebut turut membuat kalangan eksportir dalam negeri melakukan front loading atau strategi mempercepat pengiriman barang untuk mengantisipasi masalah yang mungkin timbul di masa depan. Misalnya, perubahan tarif atau peraturan baru yang menghambat perdagangan internasional.
"Di tengah Presiden Trump mengumumkan tarif retaliasi atau liberation day tarif. Nampaknya ini menggambarkan adanya front loading ekspor ke AS," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/8/2025) lalu.
(lav)
































