Logo Bloomberg Technoz

Lebih lanjut, ketika izin ekspor konsentrat tembaga Freeport tidak lagi berlaku, korporasi hanya dapat menjual produksinya ke smelter domestik. Jika kapasitas smelter domestik belum memadai, maka Wahyu memprediksi volume penjualan PTFI akan terpengaruh.

Begitu juga dengan harga jual. Wahyu memandang harga jual konsentrat tembaga ke pasar domestik dapat lebih rendah dibandingkan dengan ke pasar ekspor. Selain itu, PTFI bisa saja menjual harga konsentrat lebih murah ke smelter domestik untuk mengatasi kelebihan pasokan.

“Freeport akan sepenuhnya bergantung pada kemampuan smelter domestik untuk mengolah konsentratnya. Keterlambatan atau masalah operasional di smelter domestik akan berdampak langsung pada produksi dan penjualan Freeport,” tegas dia.

Susun Rencana

Dengan demikian, Wahyu mendorong agar Freeport menyusun rencana bisnis secara cermat dengan mengelola laju produksi agar tidak melebihi kapasitas penyerapan smelter domestik.

Dia juga memandang Freeport akan mempercepat penyelesaian optimalisasi smelter katoda untuk mengatasi berakhirnya relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga.

“Akan ada tekanan untuk mempercepat penyelesaian dan optimalisasi operasional smelter katoda tembaga PTFI,” pungkas dia.

Realisasi ekspor konsentrat tembaga Freeport hingga pertengahan Agustus 2025 sekitar 65% dari kuota izin ekspor sebesar 1,4 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) atau sekitar 0,91 juta wmt.

Di sisi lain, smelter katoda milik Freeport di Manyar, saat ini baru mencapai sekitar 60% dari kapasitas produksi maksimum.

“Hingga pertengahan Agustus 2025 realisasi ekspor sudah mencapai sekitar 65% dari kuota izin ekspor,” kata Vice President (VP) Corporate Communications PT Freeport Indonesia Katri Krisnati kepada Bloomberg Technoz, Rabu (20/8/2025).

Izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan selama enam bulan yakni sejak 17 Maret 2025 hingga 16 September 2025, atau tersisa kurang dari satu bulan lagi.

Sekadar catatan, Freeport diizinkan untuk melanjutkan ekspor konsentrat tembaga pada 2025, setelah perseroan menghadapi keadaan kahar akibat smelter katodanya di Manyar, Gresik, Jawa Timur terbakar pada 14 Oktober 2024.

Dalam kaitan itu, Katri memastikan smelter katoda milik Freeport telah beroperasi kembali sejak akhir Mei 2025. Dia mengklaim fasilitas tersebut telah menghasilkan katoda tembaga pada pekan ketiga Juli 2025.

“Saat ini rata-rata ramp up di tingkat 60%,” tegas dia.

Katri juga memastikan korporasi menjual bijih tembaga sesuai dengan harga yang berlaku di praktik internasional.

Hal tersebut sekaligus merespons kabar terdapat ekspor konsentrat tembaga yang lebih besar dengan harga di bawah pasaran menuju China yang dilakukan Freeport.

“Terkait dengan harga, baik penjualan di dalam dan luar negeri, semua transaksi merujuk pada praktik internasional,” tegas Katri.

Untuk diketahui, volume ekspor yang didapatkan Freeport, dalam satuan dry metric ton (dmt), sesuai dengan pengajuan kuota yang dilayangkan perseroan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) usai persetujuan revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).

Atas kebijakan perpanjangan ekspor tersebut, Kementerian ESDM telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 6/2025 tentang Perubahan atas Permen ESDM No. 6/2024 tentang Penyelesaian Pembangunan Fasilitas Pemurnian Mineral di Dalam Negeri.

(azr/wdh)

No more pages