Logo Bloomberg Technoz

Apabila kedua support itu jebol, maka rupiah bisa menguji Rp 16.350/US$. Target paling pesimistis atau support terjauh adalah Rp 16.380/US$.

Jika rupiah mampu menguat, maka target resisten terdekat adalah Rp 16.240/US$. Penembusan di titik ini bisa mengantar rupiah menguat ke arah Rp 16.200/US$.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Kamis 21 Agustus 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Pasar Galau

Aroma pelemahan rupiah sudah tercium bahkan sebelum pasar spot dibuka. Sebab, mata uang Ibu Pertiwi sudah lesu di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF).

Di pasar NDF tenor 1 bulan, rupiah diperdagangkan di Rp 16.284/US$.

Namun pelemahan rupiah sepertinya terbatas saja mengingat dolar AS yang sedang limbung. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah tipis hampir flat 0,01% ke 98,257.

Sepertinya pelaku pasar mengambil sikap wait and see. Satu yang ditunggu adalah bocoran soal arah kebijakan moneter AS dalam acara simposium tahunan bank sentral Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming.

Investor menunggu sinyal pelonggaran moneter dari Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell. Namun dengan inflasi yang agak ‘memanas’, ada pula yang berpandangan The Fed akan lebih hati-hati dan konservatif.

Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat The Fed bulan depan adalah 81,9%. Ini menjadi yang terendah dalam sebulan terakhir.

Ini karena pasar sepertinya masih gamang, dengan kemungkinan Federal Funds Rate bertahan di 4,25-4,5% kian besar. Kini peluangnya menjadi 18,1%.

Probabilitas Federal Funds Rate September 2025 (Sumber: CME FedWatch)

Sikap investor yang wait and see ini membuat dolar AS agak susah bergerak. Namun, sikap ini juga membuat arus modal ke negara-negara berkembang menjadi terbatas. Hasilnya, rupiah juga sepertinya masih akan terjebak di zona merah.

(aji)

No more pages