Tak hanya bergantung pada insentif pemerintah, Budi menyebut asosiasi juga melakukan cara marketing tersendiri untuk mendorong penjualan kembali naik. Seperti melakukan expo atau pameran di event daerah.
Rencananya, event tersebut akan dilakukan di Provinsi Bali dengan menghadirkan pameran motor listrik dan test drive bagi masyarakat yang berkunjung.
"Ada satu marketing bersama semacam event, ada expo untuk beberapa sepeda motor listrik. Nanti rencana kita pertama kali di Bali, akan melakukan semacam pameran bersama untuk beberapa merek dan kemudian akan diberikan kesempatan untuk melakukan test drive," ungkapnya.
"Tidak hanya di Bali tapi di beberapa daerah yang lain kita akan datang, mungkin ke Jawa Tengah, Jawa Barat dan sebagainya. Sambil melakukan edukasi, sambil mengenalkan, sambil juga mendorong pada masyarakat untuk lebih tahu bahwa motor listrik sekarang ini ternyata penggunanya lebih efisien dibandingkan sepeda motor bensin," tukasnya.
Sebelumnya, AISMOLI menduga faktor penyebab turunnya penjualan motor listrik adalah tidak jelasnya kelanjutan subsidi motor listrik setelah tahun lalu mendapat diskon jor-joran. Meski penurunan penjualan antar merek mengalami fluktuatif satu sama lain.
Selain itu, faktor turunnya daya beli masyarakat menjadi penyebab selanjutnya. Budi menyebut, penurunan penjualan tak hanya terjadi pada motor listrik namun juga menyasar motor bahan bakar fosil.
Pada 2024, kuota subsidi pembelian sebanyak 50.000 unit motor listrik yang telah habis dimanfaatkan sebelum akhir tahun. Berdasarkan data Sisapira, sisa alokasi anggaran habis terpakai, sepanjang Januari hingga September 2024, subsidi motor listrik yang tersalurkan untuk 30.607 unit kendaraan yang diberikan oleh pemerintah melalui produsen atau dealer.
Jumlah sepeda motor yang sudah diterima oleh masyarakat ada sebanyak 60.857 unit pada 2024. Dengan demikian, secara keseluruhan total unit motor listrik yang telah tersalurkan kepada masyarakat sejak 2023 adalah 72.389 unit.
(ell)





























