Farhan menuturkan, tak mudah membuka pasar baru tekstil. Pasalnya, banyak negara yang menjadi incaran ekspansi juga melakukan proteksi pasar masing-masing dengan safeguard [perlindungan] dan anti-dumping.
"Membuka pasar baru tidak semudah dengan perjanjian dagang yang telah diterapkan. Negara-negara lain juga banyak yang sudah memproteksi pasarnya masing-masing dengan safeguard dan anti dumping," jelasnya.
Sehingga satu-satunya jalan untuk tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu adalah pasar domestik. "Satu-satunya jalan untuk tetap bertahan ditengah situasi geo-ekonomi yang tidak menentu adalah pasar domestik kita," pungkasnya.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan peningkatan ekspor Indonesia ke Peru dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Peru (IP-CEPA).
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono mengungkapkan nilai ekspor tersebut merupakan gabungan ekspor antara Indonesia dan Peru yang ditargetkan berlangsung selama 5 hingga 10 tahun.
Adapun ekspor Indonesia-Peru pada 2024 senilai US$ 331,2 juta dan impornya senilai US$149,6 juta. Total perdagangan Indonesia-Peru pada 2024 tercatat sebesar US$ 480,7 juta. Meskipun angka tersebut cukup kecil, kata dia, perdagangan Indonesia dengan Peru menunjukkan pertumbuhan rata-rata 15,08% per tahun selama 2020-2024.
Djatmiko menjelaskan pada periodeJanuari-Juni 2025, total perdagangan kedua negara mencapai US$264,8 juta atau naik 34,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar US$197,1 juta. Sementara ekspor pada Januari-Juni 2025 senilai US$206,4 juta dan impor senilai US$58,4 juta.
Dia menuturkan sektor paling berpeluang untuk peningkatan ekspor ke Peru di antara tekstil dan alas kaki, otomotif dan spare parts, biodiesel/palm oil, perikanan/olahan makanan, karet, hingga mesin khusus.
(ell)




























