Logo Bloomberg Technoz

Medsos tetap menjadi titik masuk yang umum, dengan para pelaku penipuan memulai kontak lewat platform seperti Instagram dan LinkedIn. Banyak skema menggunakan pemasaran bertingkat (MLM) atau skema ponzi untuk menjaga aliran dana baru sampai operasinya ambruk.

Adapun keinginan publik akan alat-alat untuk membangun kekayaan digital yang cepat telah membuat penipuan ini sangat efektif. Para penipu memanfaatkan ketidakpastian ekonomi dan ketidakamanan finansial dengan menjanjikan imbal hasil (return) yang tak realistis.  Untuk mencegahnya, verifikasi semua peluang investasi melalui badan regulator masing-masing negara. Lalu, bersikaplah skeptis terhadap return yang dijanjikan, penawaran waktu terbatas, atau penasihat yang menolak memberikan dokumentasi secara jelas.

3.    Penipuan dengan Modus Asmara

Pada 2023, para konsumen kehilangan US$1,14 miliar (setara Rp18,59 triliun) akibat penipuan berkedok asmara, angka tertinggi dari semua penipuan jenis ini. Penipuan itu melibatkan manipulasi emosional jangka panjang, yang kerap dilakukan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Para pelaku penipuan membangun kepercayaan korban lewat aplikasi kencan, medsos, atau platform pesan lainnya. Kemudian mereka mengarang cerita seperti adanya tagihan medis, kecelakaan mobil, masalah visa, atau masalah hukum guna memeras uang korban. Kini, para penipu memakai AI untuk membuat foto, video, dan panggilan video palsu menggunakan teknologi deepfake. Teknologi tersebut membuat seseorang tampak lebih nyata dari sebelumnya.

Kasus penipuan ini tak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga meninggalkan luka emosional dan psikologis bagi korban. Mereka seringkali mengisolasi diri dan memiliki kepercayaan bahwa berada dalam hubungan yang tulus. Untuk cara mencegahnya yaitu perlu berhati-hati terhadap koneksi daring yang naik dengan cepat atau menyertakan alasan untuk tidak bertemu langsung. Jangan pernah mengirim uang kepada seseorang yang belum pernah ditemui langsung dan belum diverifikasi secara independen.

4.    Rekrutmen Money Mule

Para penjahat dunia maya kerap membutuhkan “kaki tangan” yang secara tidak sadar untuk memindahkan hasil uang curiannya. Mereka menargetkan para pencari kerja jarak jauh, mahasiswa, dan pensiunan dengan tawaran untuk bertindak sebagai “agen keuangan”. Selanjutnya, mereka menginstruksikan korban untuk menerima dana ke rekening bank mereka dan mentransfernya ke tempat lain, seringkali dengan dalih menyelesaikan transaksi bisnis yang sah. Padahal mereka sebenarnya tengah melakukan aksi pencucian uang dan bisa menghadapi konsekuensi hukum.

Seiring dengan peningkatan pengawasan perbankan internasional, para penipu makin mengandalkan individu untuk bertindak sebagai perantara manusia. Hal ini mengalihkan risiko hukum kepada korban dan merusak reputasi kredit dan keuangan mereka. Cara untuk mengatasinya yaitu hindari tawaran pekerjaan apapun yang meminta untuk menangani transfer uang atas nama orang lain. Perusahaan yang sah tidak akan pernah meminta seseorang untuk menggunakan rekening bank pribadi guna tujuan bisnis.

5. Phishing dan Kompromi Email Bisnis (BEC)

Serangan teknik pengelabuan atau phishing kini makin canggih, pada kuartal IV-2024, ada hampir 1 juta serangan phishing unik di seluruh dunia. Para pelaku menggunakan data curian, AI generatif, dan pesan yang terlihat autentik untuk menargetkan individu dan perusahaan. Penipuan peretasan email bisnis saat ini sering kali melibatkan panggilan suara deepfake atau pesan yang dihasilkan AI yang meniru gaya dan nada penulisan. Beberapa serangan menyisipkan pesan berbahaya ke dalam rangkaian email yang sudah ada, sehingga hampir tak bisa dibedakan. 

Phishing modern tidak mudah dikenali. Teknik pengelabuan itu memiliki target, personal, serta dirancang untuk menghindari tata bahasa yang buruk atau alamat email yang tidak biasa. Guna menghindari hal ini, aktifkan autentikasi multifaktor (MFA) di semua akun. Anggaplah pesan yang tak terduga dengan urgensi atau permintaan keuangan sebagai sesuatu yang mencurigakan, terutama jika melibatkan tautan, lampiran, atau perubahan instruksi pembayaran.

6. Peniruan Identitas di Medsos dan Pengambilalihan Akun

Penipuan belanja daring atau online diperkirakan bakal meningkat sepanjang tahun ini. Iklan palsu, situs web palsu, dan tautan phishing banyak menipu konsumen agar memberikan detil pembayaran. Profil palsu, akun yang diretas, dan peniruan merek naik di semua platform utama. Dalam beberapa kasus, para penipu menyamar sebagai teman atau kolega pengguna dan mengirim pesan kepada kontak mereka untuk meminta uang atau informasi sensitif. Sementara di kasus lain, mereka menyamar sebagai perwakilan layanan pelanggan atau influencer terkenal untuk menjalankan promosi dan hadiah palsu. 

Konten yang dihasilkan AI dapat memudahkan untuk mempertahankan ilusi, dengan foto profil yang realistis, postingan video, dan interaksi komentar. Di samping itu, medsos adalah lingkungan tepercaya bagi banyak penggunanya. Akun palsu yang dirancang dengan baik bisa memfasilitasi penipuan bahkan kepada pengguna yang paling skeptis sekalipun. Untuk mencegah penipuan jenis ini, lakukan verifikasi pesan misalnya terdapat penawaran yang tak terduga dengan orang atau merek lewat saluran kontak resmi. Selain itu, gunakan kata sandi yang kuat dan unik, dan aktifkan MFA di semua akun medsos

(wep)

No more pages