Beijing sebelumnya menembakkan meriam air pada kapal-kapal Filipina di LCS untuk menegaskan klaim maritimnya, di mana penjaga pantainya juga menembakkan meriam untuk mengusir kapal Filipina pada Juni lalu.
Kapal-kapal China sebelumnya juga pernah beberapa kali bertabrakan dengan kapal-kapal Filipina di perairan sengketa, yang mengakibatkan kerusakan pada kapal-kapal Manila dan terkadang melukai awak kapalnya.
Penjaga Pantai China memperingatkan armada kapal Filipina setelah kapal-kapal tersebut secara sengaja memasuki perairan dekat Scarborough Shoal meski telah diberi peringatan berulang kali.
"Penjaga Pantai China, sesuai dengan hukum, mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk memantau, memaksa, mencegat, dan mengendalikan kapal-kapal Filipina untuk mengusir mereka," kata mereka dalam pernyataannya. Mereka tidak menyinggung tabrakan dua kapal China sama sekali.
Insiden terbaru di LCS ini terjadi beberapa hari setelah Beijing mendesak Manila untuk "menahan diri dari bermain api" terkait Taiwan.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan negaranya berisiko terseret ke dalam konflik jika terjadi konfrontasi antara AS dan China terkait Taiwan karena kedekatan geografis mereka. China menganggap pulau yang memiliki pemerintahan sendiri di utara Filipina itu sebagai provinsi pemberontak.
"Meski kami sangat ingin menghindari bentrokan dengan siapa pun di mana pun, perang atas Taiwan akan menyeret Filipina secara paksa ke dalam konflik," kata Marcos dalam jumpa pers pada Senin.
Marcos juga mengatakan Filipina, sekutu lama AS, tidak akan mundur untuk memperjuangkan klaimnya di LCS, yang hampir seluruhnya diklaim Beijing meski putusan pengadilan internasional telah menolak klaim tersebut pada 2016.
"Kami akan terus mempertahankan wilayah kami. Kami akan terus menjalankan hak kedaulatan kami, meski ada penolakan dari siapa pun," tukasnya.
(bbn)






























