Logo Bloomberg Technoz

“Artinya kalau sektor logistik dan pengiriman barang tumbuh kan yang dikirim itu barang atau ada pergerakan orang, itu kan artinya ada jual beli,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai daya beli masyarakat masih lemah, kendati BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2025 tumbuh 4,97% dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 54,25%. 

Hal ini tecermin dari tingkat kunjungan pusat perbelanjaan yang hanya mencapai 10% hingga saat ini.

“[Anggota] kami ada 400 ribu pusat perbelanjaan. Itu kurang lebih kalau per hari di satu pusat perbelanjaan berarti kurang lebih hampir 20 juta [pengunjung], ya. 20-30 juta per hari [untuk seluruh pusat perbelanjaan],” ucapnya.

Tidak hanya itu, fenomena Rojali yang ramai belakang juga nyata adanya di pusat-pusat perbelanjaan. Hanya saja, intensitas munculnya Rojali sangat tergantung dengan musim keramaian mal 

Artinya, ketika peak season atau musim padat, jumlah Rojali biasanya akan lebih sedikit. Berbeda ketika musim sepi alias low season datang, yang membuat jumlah kunjungan Rojali melonjak. Pada tahun ini, intensitas Rojali sedikit lebih tinggi dari biasanya karena terdapat dua kali low season.

Munculnya Rojali ini pun tidak sepenuhnya didorong oleh daya beli masyarakat yang masih melemah, namun juga karena adanya pergeseran fungsi pusat perbelanjaan menjadi pusat perkumpulan (social hub). Hal ini terlihat dari rombongan tersebut yang berasal dari masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.

“Di kelas menengah atas pun terjadi, tetapi bukan karena faktor daya beli. Tapi, faktor makroekonomi kemudian global. Dampak-dampak global itu semua mempengaruhi. Itu lah yang membuat Rojali dan Rohananya kadang naik, kadang turun,” jelas Alphonzus.

BPS sebelumnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal 2 tahun ini mencapai 5,12%, jauh melebihi ekspektasi sejumlah kalangan ekonom yang memproyeksi tak sampai 5%.

Pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan porsi 54,25%. Namun, Peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut juga didorong oleh pertumbuhan transaksi online dari e-retail dan marketplace sebesar 7,55%.

"Jadi, ada hal baru yang mungkin belum pernah diungkap, fenomena adanya shifting dari belanja secara offline ke online," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis BPS Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers.

Pemasukan angka transaksi di marketplace tersebut juga kini menjadi menjadi hal baru dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi melalui PDB.

(mfd/ell)

No more pages