Alhasil, keseluruhan prospek pertumbuhan PDB pada separo kedua tahun ini diprediksi hanya di angka 4,9% atau lebih rendah. Dengan kelesuan masih membekap, Bank Indonesia diyakini masih akan melanjutkan siklus pelonggaran moneter.
"Dukungan pemangkasan bunga acuan BI masih akan tetap krusial sehingga kami perkirakan pola bullish steepening dengan fokus di [SUN] tenor pendek 2Y dan 5Y) masih akan menjadi pilihan hingga Fed rate cut di bulan September," jelas analis.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Mast Henderson juga memperkirakan hal serupa. Capaian kuartal II kemungkinan tidak akan bertahan lama karena dampak tarif AS belum terasa. "Ketika dampaknya terasa, pertumbuhan akan terdampak. Dengan inflasi terkendali, prospek pertumbuhan lebih lemah akan membuka jalan bagi BI untuk menurunkan bunga acuan 25 bps kuartal ini," katanya.
Harga obligasi Indonesia melesat tajam mengawali pekan dengan tenor acuan 10Y yield-nya turun sampai 9 bps, penurunan terbesar obligasi negara di emerging market Asia. Penurunan itu menyusul anjloknya imbal hasil US Treasury hingga double digit berkat data pasar tenaga kerja AS pada Jumat yang lebih lemah ketimbang ekspektasi pasar, memperkuat skenario penurunan bunga acuan The Fed.
Dibanding obligasi negara Asia lain, SUN sejauh ini memberikan yield paling tinggi, hampir 6,5%. Bandingkan dengan obligasi Malaysia atau Thailand yang 'cuma' memberikan yield 3,38% dan 1,52%.
Sepanjang tahun ini, keuntungan SUN masih tertinggal dibanding keduanya, yaitu memberikan return 6,98% year-to-date, ketika obligasi Malaysia dan Thailand memberi return 10,97% dan 14,49%. Capaian return lebih tinggi obligasi negeri jiran didukung oleh penguatan valuta mereka yang jauh meninggalkan rupiah.
Kini, dengan skenario penurunan bunga acuan The Fed terus menguat karena pelemahan pasar tenaga kerja, rupiah telah diuntungkan dengan penguatan 0,9% month-to-date di level Rp16.315/US$ pada Kamis hari ini.
Sementara tingkat imbal hasil SUN pada perdagangan hari ini mayoritas bergerak turun terutama tenor 5Y yang terpangkas 4,3 bps, disusul tenor 2Y turun 2,4 bps dan 10Y dengan penurunan yield 1,3 bps.
"Obligasi dengan mata uang lokal di Asia, khusus Indonesia [INDOGB], siap mendapatkan keuntungan yang signifikan dari skenario pelemahan dolar AS," kata Rajeev De Mello, Manajer Portofolio di GAMA Asset Management yang berpusat di Jenewa, Swiss, dilansir dari Bloomberg News.
Indonesia mencatat alokasi yang signifikan dalam portofolio obligasi emerging market yang mereka kelola.
Obligasi rupiah menjadi semakin sensitif terhadap naik turun US Treasury mengingat selisih imbal hasil di antara keduanya yang tipis, kini di kisaran 220 bps, berada 1,1 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
"Reli obligasi rupiah bisa saja terjadi, namun membutuhkan US Treasury untuk memimpin," kata Ahli Strategi Goldman Sachs termasuk di antaranya adalah Danny Suwarnapruti dan Xinquan Chen dalam catatannya Senin lalu, dikutip dari Bloomberg News.
Investor sejatinya juga masih mencermati risiko defisit fiskal yang bisa menjatuhkan harga surat utang Indonesia. Namun, masih terjaganya ekspektasi penurunan BI rate di sisa tahun ini mungkin akan membantu mengimbangi kekhawatiran tersebut.
Para investor asing, sampai data 5 Agustus lalu, masih mencatat posisi beli bersih (net buy) di surat utang RI senilai US$ 3,46 miliar, sekitar Rp56,44 triliun dengan kurs dolar AS terakhir.
Nilai net buy pemodal global di obligasi RI itu mengalahkan belanja di obligasi Thailand yang sebesar US$ 1,31 miliar, apalagi Filipina yang cuma US$ 516,1 juta berdasarkan data terakhir 30 Juni lalu. Namun, nilai belanja global fund ke obligasi Malaysia dan India jauh lebih luar biasa, senilai masing-masing US$ 5,01 miliar dan US$ 4,02 miliar year-to-date.
(rui)































