Logo Bloomberg Technoz

Lebih lanjut, Abdul juga menilai dinamika perbankan menunjukkan anomali. Sebab, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,96% pada kuartal II-2025, sementara kredit hanya tumbuh 7,7%. Padahal, lanjut Abdul, kredit sempat tumbuh tinggi di awal 2024 sebelum terus melambat hingga kuartal II-2025. Oleh karena itu, dia mempertanyakan sumber utama dorongan pertumbuhan ini.

"Kalau kita lihat dari sisi pemerintah justru dia [mereka] menghemat anggaran, nah kalau sektor moneter perbankan dan fiskal ini saling sama-sama menghemat, dari mana dananya likuiditasnya muncul dan [pertumbuhan ekonomi] bisa tumbuh 5,2%?" tanyanya.

Secara rinci, dijelaskan juga oleh Abdul bahwa pertumbuhan kredit modal kerja hanya mencapai 4,45%, padahal porsinya mendominasi sekitar 40% dari total penyaluran kredit. Meski kredit investasi memang tumbuh 12,53% pada kuartal II-2025, namun dalam struktur keseluruhan tetap lebih kecil.

Kredit korporasi juga melambat dari 16,2% pada Juni 2024 menjadi hanya 10,6% pada Juni 2025. Sementara kredit perorangan dan lainnya juga menunjukkan perlambatan tajam yang sebelumnya memiliki porsi masing-masing 6,4% dan 20,2% pada Juni 2024 kini hanya mencapai 4,2% dan 3%.

"Untuk lapangan usaha, kita melihat, berharap memang ketika pertumbuhan kredit itu cukup tinggi di sektor-sektor terdekat seperti industri pengolahan, pertanian, itu memang nanti pada gilirannya akan mampu menyerap tenaga kerja melalui ekspansi usaha yang dilakukan oleh industri. Tapi kalau dilihat pertumbuhan sektor kredit industri pengolahan hanya sekitar 6,13%."

"Pada Juni 2025 justru yang tumbuh tinggi itu adalah sektor perantara keuangan. Jadi agak membingungkan juga seperti apa dorongan yang menyebabkan industri manufaktur itu bisa tumbuh signifikan di kuartal kedua ini." jelasnya.

Ekonomi Jawa dan Sumatra Disebut Cemerlang, Padahal Kredit Melemah

Sebelumnya, BPS merilis data bahwa Jawa masih jadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 56,94% dari total PDB, diikuti Sumatra di posisi kedua dengan andil sebesar 22,20%. Namun, Abdul menggarisbawahi bahwa pertumbuhan kredit di dua wilayah utama ini justru menunjukkan perlambatan yang signifikan.

"Kalau kita lihat data sebelumnya, justru kredit di dua pulau ini justru dia tumbuh melambat bahkan bergerak di bawah 8%," pungkasnya.

Mengutip dari data paparannya yang bersumber dari Bank Indonesia, disebutkan bahwa pertumbuhan kredit di pulau Jawa hanya sebesar 5,24% secara tahunan, Sumatera juga hanya bertumbuh 4,96%. Adapun beberapa pulau lainnya seperti Kalimantan dan Sulawesi juga mengalami pertumbuhan kredit yang tipis yakni di 4,95% dan 5,83%.

Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan kredit sebesar 3,73% secara tahunan, dan Maluku Papua sebesar 3,33%.

(lav)

No more pages