Logo Bloomberg Technoz

Tekanan yang dialami semua mata uang Asia pagi ini terjadi di kala indeks dolar, DXY, bangkit lagi. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS dibanding enam mata uang utama dunia itu menguat tipis 0,01% di kisaran 98,79.

Secara teknikal, rupiah memiliki level support terdekat di Rp16.400/US$.

Sementara kisaran gerak rupiah dalam support ada di antara Rp16.450/US$ sampai dengan Rp16.500/US$.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Rabu 6 Agustus 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Lanskap pasar global masih menghadapi sinyal yang saling bertentangan dalam beberapa pekan terakhir, terjebak di antara indikasi perlambatan permintaan global, kelesuan ekonomi AS dan harapan pelonggaran kebijakan moneter di negeri itu.

Data ISM jasa Amerika Serikat (AS) stagnan di zona ekspansi di bawah ekspektasi pasar, ketika indeks pekerjaan (Employment Index) melanjutkan kontraksi ke level terendah sejak pandemi. Indeks dolar AS tertahan melemah di kisaran 98,72. 

Ekspektasi pasar akan penurunan bunga acuan The Fed pada Oktober dan Desember agak sedikit menurun. Tingkat imbal hasil US Treasury, surat utang AS, bergerak naik di semua tenor.

Pagi ini, melansir data realtime Bloomberg, yield UST-2Y naik 4,9 basis poin ke level 3,724. Sedangkan tenor 10Y naik 2,4 basis poin di 4,216%.

Hari ini, Bank Indonesia akan merilis laporan terbaru Survei Harga Properti Residensial RI kuartal II-2025, ketika para pelaku pasar domestik masih mencerna data pertumbuhan ekonomi yang mengejutkan dan sebagian mempertanyakan keabsahannya.

Indeks saham dibuka naik 0,26% namun dengan cepat mengurangi kenaikan dengan kini bertengger di 7.520. Sementara di pasar surat utang negara, seperti dilihat dari data OTC Bloomberg, tekanan jual melanda obligasi pemerintah mengekor tren di pasar US Treasury.

Yield INDOGB 2Y naik 1,8 bps menyentuh 5,798%. Lalu tenor 5Y juga naik 1,1 bps yield-nya kin di 6,100%. Adapun tenor acuan 10Y naik sedikit 0,6 bps di level 6,488%.

Tanda tanya data

Ekonom Segara Research Institute Piter Abdullah menilai angka pertumbuhan ekonomi kuartal II perlu dikaji lebih dalam karena tidak sejalan dengan sejumlah indikator utama lain yang justru menunjukkan pelemahan.

“Pertumbuhan ekonomi kita secara angka memang lebih tinggi dari konsensus, tapi ketika melihat indikator seperti konsumsi rumah tangga yang melambat, penerimaan pajak terutama PPN yang menurun, dan indeks PMI yang juga melemah, hasil pertumbuhan ini agak membingungkan,” ujarnya kepada media, Selasa (5/8/2025).

Kenaikan tajam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik, yang disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan, juga menuai tanda tanya. Ekonom Segara menilai, lonjakan PMTB hingga 6,6% secara tahunan sulit dijelaskan jika dikaitkan dengan pelemahan persepsi pelaku usaha yang tergambar dari penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI).

“PMI itu kan cerminan dari ekspektasi pelaku usaha ke depan. Ketika mereka pesimis, logikanya mereka akan menahan ekspansi. Tapi di data BPS justru PMTB melonjak, ini jadi janggal,” tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 tercatat mencapai 5,12% year-on-year, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan akan terjadi perlambatan dengan laju hanya 4,80%. Capaian kuartal II itu juga menjadi yang tertinggi sejak 2021.

Capaian kinerja pertumbuhan itu memang mengejutkan karena data-data yang dirilis sebelumnya banyak memberikan indikasi kelesuan ekonomi.

Aktivitas manufaktur RI misalnya, mencatat kontraksi beruntun selama April, Mei dan Juni. Rekrutmen tenaga kerja juga menyentuh level terendah sejak 2022 berdasarkan laporan Survei Kegiatan Dunia Usaha kuartal II-2025.

(rui)

No more pages