Logo Bloomberg Technoz

Namun, setelahnya Danantara justru disebut-sebut menggaet KBR Inc. (sebelumnya Kellogg Brown & Root) untuk mengerjakan 17 kilang modular yang disiapkan untuk mengolah minyak impor AS.

“Berarti kan memang masih belum ada studi kelayakan yang dijalankan. Berarti kan informasinya masih 'abu-abu', masih rencana gitu,” kata Moshe ketika dihubungi, Senin (4/8/2025).

“Jadi yang pertama dilakukan adalah studi kelayakan dahulu. Dari studi kelayakan itu, baru kita bisa melihat kira-kira kebutuhan di situ. Dalam studi kelayakan itu biasanya bisa dipetakan kebutuhan di situ seberapa,” tegas dia.

dok Kilang Pertamina Internasional

Menurut Moshe, studi kelayakan yang dilakukan pemerintah harus mencakup seluruh aspek rencana pembangunan kilang dan infrastruktur pendukungnya.

Jika kajian tersebut meleset, dia memprediksi anggaran pembangunan kilang tersebut akan melebar atau terjadi cost overrun.

Tipe Kilang

Terkait dengan tipe kilang yang akan dibangun pemerintah, yakni kilang modular, Moshe menilai kilang berskala kecil tersebut belum tentu memiliki biaya yang lebih murah dibandingkan dengan kilang konvensional berkapasitas produksi yang lebih tinggi.

Dia menjelaskan dalam suatu proyek kilang terdapat dua komponen yang perlu diperhitungkan yakni komponen utama kilang atau inside battery limit (ISBL) dan infrastruktur pendukung kilang atau outside battery limit (OSBL).

Moshe meminta agar pemerintah turut memperhitungkan faktor OSBL dalam rencana pembangunan, sebab aspek tersebut kerap luput dalam perhitungan hingga menyebabkan anggaran membeludak.

“Ini yang dikhawatirkan karena kita buru-buru, karena kita mau impor. Ujung-ujungnya semua terburu-buru, kalkulasinya miss, ada cost overrun. Justru nanti hasilnya merugikan, bukan justru menguntungkan. Ini yang harus diantisipasi oleh pemerintah,” tegas dia.

Sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi proyek 17 kilang modular senilai US$8 miliar, yang melibatkan Danantara dengan menggandeng AS, memang disiapkan untuk menyokong proyek kilang berkapasitas 1 juta barel.

Bahlil menegaskan proyek tersebut digagas usai Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi mengkaji kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan produk turunannya di Indonesia.

Dalam kajian itu, Satgas Hilirisasi merekomendasikan agar Indonesia membangun kilang baru untuk mencukupi kebutuhan BBM di Tanah Air. Apalagi, kilang eksisting di Indonesia baru bisa memasok sekitar 30%—40% dari total kebutuhan BBM Indonesia.

“Oh Danantara itu. Itu hasil daripada Satgas Hilirisasi. Salah satu yang kita kaji kita harus punya refinery, karena refinery kurang lebih sekitar 30%—40% dari total kebutuhan kita, selebihnya kita impor. Kemudian kita bilang kita harus membangun refinery baru,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (29/7/2025).

“Iya, iya,” tegasnya saat diminta konfirmasi apakah 17 kilang modular tersebut sama dengan proyek kilang 1 juta barel di 18 lokasi yang memang sedang direncanakan pemerintah.

Dalam kesempatan terpisah, Kementerian ESDM sempat mengungkapkan bahwa proyek kilang dan penyimpanan minyak berkapasitas 1 juta barel ditaksir menelan biaya investasi sekitar Rp160 triliun, yang bakal disebar di 18 lokasi Tanah Air.

Hal itu terungkap di dalam paparan Penyerahan Dokumen Pra Studi Kelayakan Proyek Prioritas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional oleh Menteri ESDM kepada BPI Danantara pada Selasa (22/7/2025).

Di dalam paparan tersebut disebutkan bahwa Satgas Percepatan Hilirisasi mencanangkan 3 proyek di sektor ketahanan energi dengan nilai investasi sebesar US$14,5 miliar atau sekitar Rp232 triliun. Ketiga proyek tersebut diharapkan dapat menyerap 50.960 tenaga kerja.

Rupanya, ketiga proyek ketahanan energi tersebut masih dibagi lagi menjadi dua kelompok; yaitu proyek kilang dan proyek menyimpanan minyak.

Untuk proyek kilang, investasinya ditaksir mencapai Rp160 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 44.000 orang.

Sementara itu, proyek tanki penyimpanan minyak ditaksir mencapai Rp72 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 6.960 orang.

Menurut paparan, kedua proyek tersebut—baik kilang maupun storage — disebar ke 18 lokasi di Indonesia.

Lokasi-lokasi tersebut a.l. Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, dan Fakfak.

(azr/wdh)

No more pages