Dengan demikian, dia menekankan penyaluran kredit kemungkinan akan tetap dilakukan secara selektif dan prudent pada paruh kedua 2025.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,5% YoY, terutama didorong oleh peningkatan tabungan sebesar 6,05%. Selain itu, pertumbuhan simpanan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut pada semester II-2025 seiring dengan peningkatan belanja pemerintah dan faktor musiman.
Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di level 87,9%, mencerminkan keseimbangan antara pendanaan dan penyaluran kredit. Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) mencapai 4,5% dan menunjukkan tren perbaikan seiring dengan penurunan biaya dana dan membaiknya kondisi likuiditas.
"Dari sisi permodalan, kita melihat bahwa CAR atau capitalization ratio tetap kuat di level 25,4 persen dan hal ini tentunya jauh di atas ketentuan minimum regulasi dan mencerminkan buffer pembayaran yang memang solid dan kuat," jelas Hery.
Sejalan dengan hal tersebut, BRI, ungkap Hery turut menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi menyeluruh, di mana perusahaan akan berfokus pada penguatan sektor pendanaan dan perbaikan struktur biaya, baik dari sisi cost of fund maupun cost of credit.
"Jadi untuk transformasi di bisnis funding ini kita akan melakukan perbaikan struktur pendanaan kita dan kita sangat concern untuk memperbaiki struktur ini agar CASA yang sehat melalui segmentasi layanan produk-produk dana penyertaan produk, akselerasi peningkatan giro, penguatan digital channel, serta penguatan branding untuk memperkuat posisi di pasar retail dan juga wholesale," pungkasnya.
Untuk sebagai catatan saja, BRI diketahui membukukan laba bersih Rp25,53 triliun sepanjang semester I-2025. Perolehan laba BBRI mengalami penurunan 11,25% secara tahunan dari sebelumnya Rp29,89 triliun.
(ain)






























