Bagaimanapun, jika impor minyak dari AS dilakukan dalam jangka waktu panjang, Moshe masih meyakini Indonesia akan mendapatkan manfaat baik dari sisi keuntungan maupun dalam mencukupi kebutuhan domestik.
“Di Indonesia kita harus bangun kilang. Kilang baru itu udah kita tunggu 20-an tahun. Kita tunggu harus ada kilang baru, crude-nya memang mesti impor, ya sudah itu konsekuensinya,” tegas dia.
Harus Selektif
Lebih lanjut, dia meminta pemerintah agar selektif dalam memilih minyak dari AS. Apalagi, masing-masing wilayah di AS memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga besar kemungkinan kilang yang dibangun harus memiliki fasilitas mumpuni untuk memprosesnya.
“Di Amerika sendiri crude-nya itu beda-beda. Misalkan crude dari Texas, dari offshore Amerika. Itu kadang-kadang crude-nya beda-beda. Jadi kita harus memilih,” ungkap dia.
Selain itu, Moshe meminta pemerintah mengantisipasi jika sewaktu-waktu pasokan minyak dari AS terhambat. Dia menilai pemerintah harus mencari opsi minyak dari wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa, agar dapat menjadi opsi cadangan impor.
“Memang Indonesia juga harus memetakan. Kalau misalkan kita nggak dari Amerika. Ada enggak crude yang mirip-mirip properties-nya sama. Ada aja di dunia ini yang mirip dengan Amerika, jadi ya kita harus pertimbangkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi proyek 17 kilang modular senilai US$8 miliar (sekitar Rp131,04 triliun), yang melibatkan Danantara dengan menggandeng AS, memang disiapkan untuk menyokong proyek kilang berkapasitas 1 juta barel.
Bahlil menegaskan proyek, yang dikabarkan melibatkan KBR Inc. (sebelumnya Kellogg Brown & Root), tersebut digagas usai Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi mengkaji kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan produk turunannya di Indonesia.
Dalam kajian itu, Satgas Hilirisasi merekomendasikan agar Indonesia membangun kilang baru untuk mencukupi kebutuhan BBM di Tanah Air. Apalagi, kilang eksisting di Indonesia baru bisa memasok sekitar 30%—40% dari total kebutuhan BBM Indonesia.
“Oh Danantara itu. Itu hasil daripada Satgas Hilirisasi. Salah satu yang kita kaji kita harus punya refinery, karena refinery kurang lebih sekitar 30%—40% dari total kebutuhan kita, selebihnya kita impor. Kemudian kita bilang kita harus membangun refinery baru,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (29/7/2025).
“Iya, iya,” tegasnya saat diminta konfirmasi apakah 17 kilang modular tersebut sama dengan proyek kilang 1 juta barel di 18 lokasi yang memang sedang direncanakan pemerintah.
Di lain sisi, CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantra Rosan Perkasa Roeslani mengonfirmasi 17 kilang modular yang akan dibangun direncanakan untuk mengolah minyak mentah yang akan diimpor dari Negeri Paman Sam.
Terlebih, sebelumnya pemerintah berkomitmen mengimpor minyak mentah, gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), hingga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin senilai total US$15 miliar.
“Karena kalau kita lihat salah satu di dalam kesepakatan itu kan kita akan melakukan impor dari crude oil ke Indonesia, yang tentunya kan itu perlu ada refinery.”
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menegaskan 17 kilang modular tersebut akan dibangun di Tanah Air.
Airlangga menyebut Indonesia tidak akan membeli kilang secara utuh dari AS, melainkan hanya memboyong jasa dan paket pengerjaan berupa engineering, procurement, and construction (EPC). Nantinya, perlengkapan konstruksi kilang dan teknologinya akan dibangun langsung di Tanah Air.
“Kita tidak membangun refinery di Amerika, tetapi membangun refinery di Indonesia. [Sebanyak] 17 unit refinery di Indonesia, sifatnya small refinery,” kata Airlangga dalam Investor Daily Round Table Talk, disiarkan secara daring, dikutip Selasa (29/7/2025).
(wdh)





























