Kenaikan ini menandai pembalikan tren harga batu bara global yang sempat anjlok ke titik terendah sejak 2021 pada awal tahun akibat musim dingin yang lebih hangat, yang menekan permintaan di China dan negara-negara besar pengimpor lainnya di Asia.
Kendati demikian, harga saat ini masih 75% lebih rendah dibandingkan puncak tertingginya pada 2022, pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Potensi cuaca panas di atas normal di China, Jepang, dan Korea Selatan menambah risiko kenaikan permintaan batu bara, menurut analis Goldman Sachs, termasuk Hongcen Wei, dalam laporan tertanggal 27 Juli.
Persediaan batu bara China telah menurun sejak awal Juni dan kini berada di bawah level tahun lalu untuk periode yang sama, berpotensi mendorong peningkatan impor dalam tiga bulan ke depan, tambah para analis.
(bbn)






























