"Proyeksi ini tetap rentan terhadap ketidakpastian seputar ekonomi global, baik dari sisi penurunan maupun kenaikan."
Menurut BNM, hasil negosiasi dagang yang menguntungkan, kebijakan pro-pertumbuhan di ekonomi besar, permintaan barang-barang elektronik dan listrik yang berkelanjutan, dan aktivitas pariwisata yang kuat bisa meningkatkan prospek ekspor dan pertumbuhan Malaysia.
Proyeksi yang direvisi ini muncul saat Malaysia berusaha menurunkan tarif AS kurang dari 20%, setelah Trump mengancam negara Asia Tenggara tersebut mengerek tarif menjadi 25%.
Malaysia hanya memiliki waktu hingga 1 Agustus untuk menyelesaikan negosiasi dan optimistis bisa mencapai kesepakatan.
BNM menyatakan Malaysia menghadapi tantangan eksternal dari posisi yang kuat, mengacu pada ketahanan ekonomi berdasarkan perkiraan awal pada kuartal kedua. Permintaan domestik akan terus mendukung pertumbuhan ke depan.
Bank sentral juga memperkirakan tekanan inflasi dari harga komoditas global akan tetap terbatas, sehingga berkontribusi pada kondisi biaya domestik yang moderat. Dampak dari berbagai kebijakan lokal juga cenderung tetap terkendali.
(bbn)































