Logo Bloomberg Technoz

Mereka menambahkan keputusan BP tidak mencerminkan potensi AREH untuk mendekarbonisasi wilayah Pilbara serta mendukung lahirnya industri baja ramah lingkungan atau green iron di Australia.

BP masuk ke proyek ini—yang sebelumnya diperkirakan bernilai sekitar US$36 miliar atau sekitar Rp586,8 triliun (asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS)—pada saat perusahaan tengah agresif membangun portofolio energi rendah karbon dan mengurangi ketergantungan pada minyak.

Namun, setelah bertahun-tahun harga saham BP tertinggal dari para pesaingnya serta mundurnya arsitek utama strategi transisi tersebut, mantan CEO Bernard Looney, perusahaan pun merombak strategi untuk lebih berfokus pada profitabilitas ketimbang target hijau.

BP bukan satu-satunya perusahaan besar yang mulai meninggalkan ambisi hidrogen hijaunya.

Sejumlah perusahaan lain yang sempat melihat hidrogen hijau sebagai “the next big thing” juga memangkas rencana mereka karena efisiensi biaya yang diharapkan tak kunjung tercapai.

Pada hari yang sama, Fortescue Ltd. mengumumkan pembatalan 2 proyek hidrogen: proyek Arizona Hydrogen senilai US$550 juta di AS dan proyek PEM50 senilai US$150 juta di Gladstone, Australia.

Kedua pembatalan ini berdampak pada pencatatan rugi pra-pajak sebesar US$150 juta. Sementara itu, Woodside Energy Group Ltd. juga mencatat penurunan laba setelah membatalkan proyek hidrogen utama di Amerika Serikat.

Menurut Nigel Rambhujun, analis hidrogen di Rystad Energy, sekitar sepertiga dari total proyek hidrogen hijau yang diumumkan di Australia kini telah ditangguhkan atau dibatalkan.

Dia menilai kurangnya komitmen pembeli menjadi hambatan utama bagi keberlanjutan proyek-proyek tersebut.

Hidrogen hijau dihasilkan melalui proses elektrolisis, yaitu pemisahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen dengan bantuan listrik.

Karena itu, penurunan biaya produksi sangat tergantung pada seberapa murah listrik dapat dihasilkan.

Australian Renewable Energy Hub ditargetkan memasang kapasitas energi surya dan angin sebesar 26 gigawatt di atas lahan seluas 6.500 kilometer persegi di kawasan Pilbara, Australia Barat—wilayah yang bahkan lebih besar dari negara bagian Delaware di AS.

Keputusan BP ini sebelumnya pertama kali dilaporkan oleh Australian Financial Review.

(bbn)

No more pages