Logo Bloomberg Technoz

Menurut analisis tim riset Mega Capital Sekuritas, ramainya lelang hari ini terutama karena sentimen bullish yang kuat di pasar belakangan tentang peluang penurunan BI rate ke depan.

"Rencana Kemenkeu menerbitkan lebih banyak obligasi dalam denominsi valas dalam beberapa bulan ke depan, juga berkontribusi memicu reli bullish yang sudah berlangsung," kata Lionel Priyadi, Muhammad Haikal dan Nanda Rahmawati dari Mega Capital, dalam catatannya untuk klien.

Bila Pemerintah RI menerbitkan obligasi global dalam denominasi aussie, alias dolar Australia (Kangaroo Bond) pada Agustus, disusul penerbitan Dimsum Bond -sebutan untuk global bond dalam yuan pada kuartal IV nanti, dalam rentang nilai penerbitan US$ 2 miliar atau masing-masing sebesar US$ 1 miliar, "Hal itu akan membawa porsi penerbitan global bond RI tahun ini akan mencapai 14,14%, lebih tinggi dibanding tahun lalu 12,43%, di mana itu akan mengurangi suplai obligasi rupiah," kata Lionel.

Suplai yang terbatas akan membuat harga surat utang eksisting di pasar bakal makin menarik. Tak heran bila rencana tersebut akan makin memberi energi bullish pada pasar surat utang RI ke depan.

Pada perdagangan kemarin, harga surat utang negara melesat, melanjutkan reli sejak pengujung pekan lalu. Pada penutupan Selasa sore, yield 2Y dan 10Y sama-sama turun 3,8 bps, masing-masing di 5,760% dan 6,475%. 

Sedangkan tenor 3Y dan 15Y bahkan turun yield-nya sampai 7,1 bps dan 7,5 bps.

Daya tarik obligasi Indonesia masih menarik di mata asing. Salah satu pengelola dana global yang berpusat di Amerika Serikat (AS), T. Rowe Price Gorup Inc., memilih surat utang RI bertenor medium sebagai pilihan menarik.

Leonard Kwan, Portfolio Manager T. Rowe Price Group di Hong Kong, seperti dikutip dari Bloomberg News, mengatakan, obligasi Indonesia dengan jatuh tempo jangka menengah menarik menjadi salah satu pilihan karena kemungkinan penurunan BI rate sebanyak dua sampai tiga kali lagi masing-masing sebesar 25 bps ke depan.

Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara, seperti dilansir dari Kementerian Keuangan, memang sedikit berkurang setelah menyentuh nilai Rp936,24 triliun, posisi kepemilikan tertinggi SBN oleh investor asing sejak awal November 2021. 

Sampai data terakhir per 18 Juli, asing kini menguasai Rp932,3 triliun, stabil di kisaran 14,63% dari total outstanding surat utang negara yang beredar di pasar sekunder.

Sepanjang tahun ini, obligasi pemerintah Indonesia telah mencatat total return sebesar 6,53% year-to-date, seperti dilansir data Bloomberg.

(rui)

No more pages