Logo Bloomberg Technoz

Dalam penelusurannya, penyidik juga menemukan bukti Allan menggunakan uang pencairan kredit dari Bank Jakarta tidak sesuai dengan peruntukannya yaitu sebagai modal kerja. Dana kredit tersebut justru digunakan untuk melunasi utang medium term note (MTN).

Di Bank Jakarta, Babay bertanggung jawab karena berperan sebagai pejabat pemegang kewenangan memutus kredit yang bertanggung jawab atas keputusan kredit terkait memorandum analisa kredit (MAK). Selaku Direksi Komite A2 - yang memiliki kewenangan memutus kredit Rp75 miliar hingga Rp150 miliar - Babay justru tak mempertimbangkan adanya kewajiban utang medium term note PT Sritex pada Bank BRI yang akan jatuh tempo.

Selain itu, Babay juga disebut tidak meneliti pemberian kredit PT Sritex sesuai norma umum perbankan. Saat itu, pemberian kredit PT Sritex lolos dengan fasilitas jaminan umum tanpa kebendaan; walapun perusahaan tekstil tersebut sebenarnya tak masuk kategori debitur prima. Hal yang sama dilakukan Pramono. 

Hal yang sama terjadi di Bank BJB, menurut Nurcahyo, Yuddy sebagai komite kredit pemutus tingkat pertama menyetujui penambahan plafon kepada PT Sritex hingga sebesar Rp350 miliar. Padahal, dia mengetahui bahwa PT Sritex tidak mencantumkan kredit yang sudah ada (existing) sebesar Rp200 miliar dalam laporan keuangannya.

Benny dengan kewenangannya juga tak melakukan evaluasi permohonan kredit dari PT Sritex. Mereka mengklaim mengacu pada laporan keuangan Sritex yang telah melantai di bursa saham selama tiga tahun. Padahal, Sritex secara jelas mengalami penurunan produksi dan tingkat ekspor.

Demikian pula di Bank Jateng, Supriyatno, Pujiono, dan Suldiarta dianggap memberikan persetujuan bermasalah terhadap kredit dari PT Sritex untuk nominal dana yang secara jelas lebih tinggi dari aset. Sehingga, pennyaluran kredit tersebut sangat beresiko.

Mereka menandatangani usulan memorandum analisa kredit yang diajukan oleh PT Sritex tanpa melakukan verifikasi secara langsung terhadap kebenaran Laporan Keuangan Audited PT Sritex 2016 sampai dengan 2018. Mereka juga tidak melakukan evaluasi terkait keakuratan laporan keuangan yang disajikan oleh analisis kredit. 

(dov/frg)

No more pages