Bersama dua rekannya pada 1977, ia mendirikan perusahaan yang kemudian menjadi Oracle. Perusahaan ini go public pada Maret 1986 atau hanya sehari sebelum Microsoft IPO. Larry Ellison menjabat sebagai CEO hingga 2014, lalu melanjutkan perannya sebagai ketua dewan dan chief technology officer (CTO).
Oracle dan Tren AI
Perusahaan yang ia dirikan kini berada dalam fase pertumbuhan agresif, berkat lonjakan kebutuhan layanan komputasi awan dan antusiasme pasar terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Sejak peluncuran ChatGPT pada akhir 2022, harga saham Oracle hampir meningkat tiga kali lipat. Oracle juga disebut-sebut menjalin kerja sama besar dengan OpenAI untuk menyewakan kapasitas komputasi dalam skala belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada 15 Juli, saham Oracle naik 5,7% setelah pemerintah AS melonggarkan kebijakan ekspor chip ke China. Kebijakan ini mendorong sentimen positif terhadap perusahaan yang menjadi pembeli besar cip AI untuk pusat data mereka.
Kenaikan ini menambah momentum yang telah berlangsung sejak April, ketika saham Oracle melonjak lebih dari 90% berkat laporan keuangan yang solid dan serangkaian kemitraan strategis di sektor AI.
Koneksi Politik
Di luar bisnis Larry Ellison dikenal memiliki hubungan erat dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Ia telah lama menjadi donatur Partai Republik dan disebut mendapat dukungan Trump untuk sejumlah proyek strategis.
Salah satu proyek besar itu adalah Stargate, inisiatif infrastruktur AI senilai US$500 miliar (Rp8.162 tfriliun) yang diumumkan Trump pada awal tahun. Trump juga secara terbuka mendukung upaya Oracle untuk mengakuisisi sebagian saham TikTok di AS. Meski telah disetujui di Washington, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan dari Beijing.
Bisnis dan Gaya Hidup Super Mewah
Larry Ellison juga dikenal sebagai kolektor properti mewah. Ia memiliki sejumlah aset bernilai tinggi di California, Rhode Island, hingga kawasan Teluk San Francisco—termasuk rumah bergaya Jepang abad ke-16. Ia sempat menjadi pemegang saham besar Tesla dan merupakan salah satu investor eksternal terbesar dalam akuisisi Twitter oleh Elon Musk.
Di luar dunia teknologi, Larry Ellison aktif dalam dunia olahraga layar. Ia mendanai tim BMW Oracle Racing yang memenangkan America's Cup pada 2010 dan mempertahankan gelar pada 2013. Ia juga sempat memiliki mega-yacht setinggi 138 meter bernama Rising Sun, sebelum akhirnya menjualnya ke David Geffen.
Pada 2010, Larry Ellison menandatangani Giving Pledge, janji dari para miliarder dunia untuk menyumbangkan mayoritas kekayaannya untuk amal.
Pulau Pribadi dan Kontroversi di Hawaii
Kecintaan Larry Ellison terhadap Hawaii membuatnya membeli 98% wilayah Pulau Lanai pada 2012 seharga US$300 juta. Ia mengembangkan pulau tersebut menjadi lokasi resor kesehatan kelas atas bernama Sensei, bersama dokter David Agus, yang pernah merawat Steve Jobs.
Namun, tak semua pihak menyambut hangat kehadiran Larry Ellison di Lanai. Meski banyak yang mengapresiasi revitalisasi ekonomi yang dibawanya, beberapa warga lokal mengeluhkan bahwa pulau tersebut kini semakin eksklusif dan menekan komunitas asli yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi.
Warisan dan Pengaruh
Larry Ellison bukan hanya seorang pendiri perusahaan teknologi. Ia adalah simbol bagaimana kekayaan, kekuasaan, teknologi, dan politik bisa terjalin erat. Di usia 80 tahun, ia tetap menjadi aktor utama dalam lanskap teknologi global—baik melalui Oracle, koneksi politiknya, maupun investasi-investasi berisiko tinggi yang ia jalankan dengan gaya hidup tak biasa.
(bbn)






























