Yang awalnya merupakan obsesi anak muda China, Labubu meledak secara internasional, di mana para penggemar rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan mainan kultus tersebut.
Melonjaknya popularitas Labubu mengubah Pop Mart menjadi perusahaan bernilai lebih dari US$40 miliar dan sahamnya yang terdaftar di Hong Kong melonjak 588% dalam setahun terakhir.
Terobosan Pop Mart yang langka ke pasar Barat juga memberikan perusahaan ini salah satu margin laba ritel terbesar bagi perusahaan China dengan jangkauan global yang signifikan.
Margin laba kotornya hampir 67% tahun lalu, dibandingkan dengan 45% yang diraih peritel perlengkapan rumah dan mainan Miniso Group Holding Ltd dan sekitar 20% yang dibukukan Xiaomi Corp dan raksasa kendaraan listrik BYD Co.
(bbn)































