Logo Bloomberg Technoz

“Ini kembali menunjukkan gambaran kuatnya sisi suplai tapi lemahnya permintaan domestik, dan ketahanan ekspor ini tidak akan bertahan lama,” ujar Michelle Lam, ekonom wilayah Greater China di Societe Generale SA. “Data ini tidak terlalu menggembirakan meskipun PDB melampaui ekspektasi.”

Produksi sektor manufaktur melonjak 7,4% pada Juni, menjadi laju tercepat dalam tiga bulan terakhir dan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri.

Ekonom sebelumnya memperkirakan perlambatan pertumbuhan penjualan ritel pada Juni setelah lonjakan kuat di bulan Mei. Namun, penurunan yang terjadi ternyata jauh lebih tajam dari prediksi.

Pada Juni, penjualan minuman, rokok, alkohol, dan kosmetik turun dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan layanan katering juga melambat, membebani konsumsi secara keseluruhan, meskipun pembelian peralatan rumah tangga, perangkat komunikasi, dan furnitur tetap tumbuh pesat berkat subsidi pemerintah.

“Ekonomi tetap tumbuh stabil dengan momentum yang baik, menunjukkan ketahanan dan vitalitas yang kuat,” tulis NBS dalam pernyataannya. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa “masih banyak faktor ketidakstabilan dan ketidakpastian dari luar negeri,” sementara permintaan domestik “belum mencukupi.”

Meski ekspor ke AS anjlok 24% pada kuartal kedua, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini tetap menunjukkan ketangguhan. Ekspor secara keseluruhan masih tumbuh, didorong stimulus fiskal yang menopang permintaan domestik dan sektor konstruksi.

Ketahanan ini memberi ruang bagi Beijing untuk menyiapkan respons kebijakan lebih lanjut jika ketegangan dagang dengan Washington kembali memanas saat masa gencatan tarif berakhir pada pertengahan Agustus.

Penjualan ritel China. (Sumber: Bloomberg)

Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) telah berulang kali memberi sinyal bahwa mereka tidak terburu-buru untuk melakukan pelonggaran moneter berskala besar. Sebaliknya, mereka lebih memilih dukungan terarah melalui instrumen pinjaman struktural agar kredit mengalir ke sektor prioritas dan menghindari likuiditas menganggur dalam sistem keuangan.

Subsidi pemerintah, yang dibiayai lewat penerbitan obligasi khusus jangka panjang, menjadi kunci dalam mendorong pembelian smartphone, peralatan rumah tangga, serta investasi korporasi dalam peralatan baru sepanjang tahun ini.

Pemerintah pusat dan daerah masih memiliki ruang menerbitkan obligasi senilai lebih dari 7 triliun yuan pada paruh kedua tahun ini untuk menopang pertumbuhan ekonomi, menurut laporan media pemerintah sebelumnya.

Ke depan, ekonomi China masih menghadapi tantangan, termasuk risiko pelemahan ekspor akibat ketidakpastian tarif dari Presiden AS Donald Trump. Permintaan dalam negeri masih rapuh, dibebani tekanan deflasi akibat kelebihan kapasitas manufaktur dan rendahnya kepercayaan publik karena sektor properti terus melemah.

Harapan terhadap dukungan tambahan untuk industri properti pun meningkat. Beredar spekulasi bahwa pemerintah sedang menggelar pertemuan tingkat tinggi untuk membahas isu tersebut. Sinyal dari para pembuat kebijakan untuk meredam “involusi”—yakni persaingan ekstrem antarperusahaan—juga disambut positif oleh investor.

Beberapa ekonom memperkirakan pemerintah akan menghidupkan kembali instrumen kuasi-fiskal untuk memberikan stimulus, sementara sebagian lainnya menyerukan lebih banyak bantuan langsung kepada konsumen apabila tarif AS kembali dinaikkan.

(bbn)

No more pages