Logo Bloomberg Technoz

Cenderung Diuntungkan

Dalam kaitan itu, dia menilai pasar tembaga Indonesia cenderung diuntungkan secara tidak langsung dari kebijakan kenaikan tarif tersebut, melalui windfall dari kenaikan harga tembaga global seiring dengan tarif akan mempersempit pasokan tembaga global.

Wacana kebijakan tersebut, kata dia, juga sudah direspon oleh pasar dengan terjadi kenaikan harga tembaga ke level US$5,58 per pound atau mendekati all time high (ATH).

Tembaga diperdagangkan di harga US$9.660,50/ton di London Metal Exchange (LME) pada penutupan Jumat, terkoreksi 0,41% dari penutuan sebelumnya. Sementara itu, harga di Comex di level US$5,584/pon atau turun tipis 0,13% dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Audi menuturkan pemberlakuan tarif 50% pada tembaga itu juga akan mengoptimalisasi hilirisasi komoditas andalan RI, terlebih dari smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dapat mendongkrak porsi pasar dengan refined copper berkualitas tinggi.

Diberitakan sebelumnya, pemberlakuan tarif 50% yang akan diterapkan pada 1 Agustus mendatang itu mencakup jenis material yang digunakan untuk jaringan listrik, militer, dan pusat data.

Rencana ini mencakup produk setengah jadi, menurut beberapa sumber yang mengetahuinya dan meminta untuk tidak disebutkan namanya karena diskusi bersifat tertutup. Pasalnya, detail mengenai tarif tembaga yang terungkap sejauh ini hanya sedikit. Tarif ini pun belum diformalkan dan bisa saja berubah.

Tembaga olahan sudah lama diperkirakan akan dikenai tarif, tetapi belum jelas apa yang akan terjadi dengan produk setengah jadi—kategori yang mencakup kabel, lembaran, tabung, dan pelat. Memajaki produk setengah jadi akan meningkatkan dampak tarif.

Harga tembaga di Comex New York naik 1,3% pada perdagangan awal Asia, Jumat (11/7/2025).

Menurut kajian BMI, lengan riset Fitch Solutions dari Fitch Group, prospek produksi untuk komoditas logam penting ini diramal masih akan tumbuh kuat hingga 2034.

Ekspansi baru tambang tembaga di berbagai negara mulai kembali bermunculan, didukung oleh harga yang mencapai rekor historis serta prospek permintaan yang masih cerah.

“Kami memperkirakan produksi tambang tembaga global akan meningkat dengan tingkat tahunan rata-rata 2,9% selama periode 2025—2034, dengan output tahunan meningkat dari 23,8 juta pada 2025 menjadi 30,9 juta pada 2034,” papar tim riset BMI dalam laporannya. 

Untuk 2025 saja, produksi tambang tembaga dunia diestimasikan meningkat 2,5% secara yoy, ditopang oleh pemulihan produksi di Cile dan peningkatan produksi di tambang Oyu Tolgoi, Mongolia.

Peru, Rusia, dan Zambia juga akan tetap menjadi kontributor utama pasokan tembaga global. Akan tetapi, produksi dari Indonesia, Kanada, dan Kazakhstan ditaksir akan mengalami penurunan, meski tidak dijelaskan seberapa signifikan penurunan tersebut.

(wdh)

No more pages