Hasilnya adalah sepatu race ultra-ringan dengan berat hanya 170 gram, dengan desain futuristik. Model ini telah digunakan oleh beberapa atlet On pada Olimpiade Paris 2024. Di momen yang sama, perusahaan juga memperkenalkan teknologi tersebut ke publik melalui demonstrasi langsung di sebuah laboratorium sementara di pusat kota Paris.
Meski masih terbatas pada satu model dengan harga tinggi dibanderol sekitar Rp6 juta. On menilai langkah ini sebagai awal dari revolusi produksi sepatu. "Tantangan besar kami berikutnya adalah menaikkan skala produksi," ujar mantan atlet triatlon sekaligus salah satu pendiri On Olivier Bernhard.
Dengan sistem produksi otomatis ini, On berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasokan global dan mempercepat distribusi melalui produksi lokal. "Dengan robot, alih-alih ratusan pekerja, kami bisa memproduksi secara cepat dan dekat dengan pasar," tambah Bernhard.
On menyatakan pabrik otomatis tambahan sudah direncanakan di berbagai wilayah global. Namun, efektivitas teknologi Lightspray dalam skala industri jangka panjang masih harus dibuktikan untuk memastikan keunggulan strategis dibandingkan metode manufaktur tradisional.
(prc/wep)





























