Logo Bloomberg Technoz

Bedah Outlook Tambang Tembaga Dunia Usai Trump Ancam Tarif 50%

Wike Dita Herlinda
10 July 2025 11:30

Tambang tembaga Cobre Panama./Bloomberg-Walter Hurtado
Tambang tembaga Cobre Panama./Bloomberg-Walter Hurtado

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kendati pasar tembaga tengah diguncang isu bea masuk sebesar 50% oleh Presiden Amerika Serika (AS) Donald Trump, prospek produksi untuk komoditas logam penting ini diramal masih akan tumbuh kuat hingga 2034.

Menurut kajian BMI, lengan riset Fitch Solutions dari Fitch Group, ekspansi baru tambang tembaga di berbagai negara mulai kembali bermunculan, didukung oleh harga yang mencapai rekor historis serta prospek permintaan yang masih cerah.

“Kami memperkirakan produksi tambang tembaga global akan meningkat dengan tingkat tahunan rata-rata 2,9% selama periode 2025—2034, dengan output tahunan meningkat dari 23,8 juta pada 2025 menjadi 30,9 juta pada 2034,” papar tim riset BMI dalam laporan yang dilansir Kamis (10/7/2025).

Prospek produksi tambang tembaga dunia hingga 2034./dok. BMI

Untuk 2025 saja, produksi tambang tembaga dunia diestimasikan meningkat 2,5% secara year on year (yoy), ditopang oleh pemulihan produksi di Cile dan peningkatan produksi di tambang Oyu Tolgoi, Mongolia.

Peru, Rusia, dan Zambia juga akan tetap menjadi kontributor utama pasokan tembaga global. Akan tetapi, produksi dari Indonesia, Kanada, dan Kazakhstan ditaksir akan mengalami penurunan, meski tidak diejelaskan seberapa signifikan penurunan tersebut.