"Tingkat revisi sangat tergantung pada stabilitas ekonomi dan ekspektasi ke depan. Seperti suku bunga acuan, kemudian permintaan kredit dan juga likuiditas juga, maupun kinerja bank hingga posisi Juni 2025," tambahnya.
Dian menyebut, pihaknya saat ini tengah melakukan asesmen komprehensif terhadap kinerja industri perbankan pada semester I tahun 2025, dengan membandingkan realisasi capaian dengan target RBB yang telah disampaikan.
Penilaian tersebut juga mencakup aspek stabilitas sektor keuangan, proyeksi ekonomi makro, serta kemampuan bank dalam menjaga risiko, likuiditas, dan permodalan.
"Perkiraan kita sebagian besar bank masih dalam trajektori yang wajar, dengan basis asumsi terkini,” pungkasnya.
Sebagai catatan, berdasarkan laporan OJK, penyaluran kredit perbankan hingga Mei 2025 tercatat sebesar Rp7.997,63 triliun, angka ini naik 8,43% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Namun, angka pertumbuhan tersebut melambat dibanding pertumbuhan pada bulan sebelumnya, April 2025, ketika kredit perbankan tumbuh 8,8% (yoy).
Sementara itu, dari kategori debitur, kredit koorporasi tumbuh sebesar 11,92%. Sedangkan, kredit UMKM hanya tumbuh 2,17%. OJK menilai lesunya pertumbuhan kredit UMKM terjadi di tengah upaya perbankan yang fokus pada upaya-upaya pemulihan kualitas kredit UMKM.
Dari sisi dana murah, dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 4,29% (yoy) menjadi Rp9.072 triliun dengan giro, tabungan dan deposito masing-masing 5,57%, 5,39% dan 2,31% (yoy).
Dian mengklaim likuiditas perbankan pada Mei 2025 lalu memadai dengan alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing 110,33% dan 24,98%.
Angka ini disebut-sebut masih di atas threshold masing-masing 50% dan 10%. Sementara itu, kualitas kredit tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan atau NPL gross 2,29% dan NPL nett 0,85%.
(lav)






























