Sektor nikel menjadi contoh peringatan. Sepuluh tahun lalu, Indonesia menyumbang sekitar 7% produksi tambang nikel global—kini angkanya mendekati 60%, berkat energi listrik dari batu bara dan smelter milik China.
Raksasa logam seperti BHP Group Ltd. yang sempat meremehkan kebangkitan ini akhirnya terpaksa menutup operasi di Australia dan wilayah lain. Malahan, industri nikel Indonesia kini mulai kewalahan akibat ekspansinya yang terlalu cepat.
“Dalam 5 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi pusat gravitasi industri aluminium global,” kata Alan Clark, direktur di konsultan logam CM Group.
“Menarik sekali membandingkan apa yang terjadi di sektor nikel global dengan yang kini berlangsung di aluminium.”
Memang, cadangan bauksit—bahan baku utama aluminium—Indonesia tidak sebesar nikel kadar rendah yang sebelumnya menjadi primadona berkat inovasi teknologi.
Namun, cadangan tersebut cukup untuk menopang industri smelter berskala besar, apalagi ditopang oleh biaya tenaga kerja murah dan listrik batu bara yang melimpah.
Bagi pemerintah Indonesia yang ingin memperkuat sektor manufaktur demi menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, peluang “sukses kedua” ini sangat menggiurkan. Itulah yang mendorong Presiden Joko Widodo melarang ekspor bauksit sejak 2023.
Kebijakan itu tetap dijalankan oleh penggantinya, Prabowo Subianto, yang menjadikan hilirisasi sebagai pilar utama untuk membiayai program ambisius seperti makan siang gratis dan pembentukan dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund berskala besar.
Membangun satu kilang alumina saja bisa menelan biaya sekitar US$1 miliar—sebuah taruhan besar—namun bagi banyak perusahaan China, harga itu layak dibayar demi memastikan pasokan bahan baku jangka panjang.
Tahun ini saja, tiga kilang alumina baru—komponen penting dalam proses produksi aluminium—akan mulai beroperasi. Setidaknya 3 proyek lainnya ditargetkan rampung sebelum akhir 2027, yang menurut konsultan CRU Group, akan melipatgandakan kapasitas Indonesia dan membawa negara ini ke jajaran produsen terbesar dunia.
Sementara itu, sektor smelter aluminium Indonesia juga berkembang pesat. Dua pabrik sudah beroperasi, dan empat lainnya ditargetkan beroperasi komersial sebelum 2030, menurut Goldman Sachs.
Larangan ekspor bauksit Indonesia sempat memaksa China mengandalkan pasokan dari Guinea, produsen terbesar dunia.
Namun kini Guinea mulai menggunakan dominasinya dengan mencabut izin tambang perusahaan yang tidak membangun pabrik di dalam negeri, sebuah langkah yang justru mendorong China makin ingin melakukan diversifikasi.
Beberapa taipan logam China bahkan menawarkan pabrik bongkar-pasang atau pendanaan bagi pemain lokal yang kesulitan modal, kata Agustinus Tan, Direktur Utama produsen bauksit PT Laman Mining.
“Ada beberapa pabrik di luar yang tutup, dan mereka menawarkan mesinnya,” kata Tan, yang berencana memulai pembangunan pabrik pemurniannya sendiri tahun depan.
“Lebih baik jauh dari pengguna akhir ketimbang jauh dari sumber bahan baku.”
Salah satu investor besar asal China adalah Tsingshan—konglomerat baja tahan karat yang memimpin ekspansi nikel Indonesia melalui skala besar dan efisiensi biaya ekstrem.
Smelter aluminium pertamanya mulai beroperasi pada 2023, dan fasilitas kedua yang jauh lebih besar dijadwalkan beroperasi tahun depan.
“Waktu Tsingshan masuk ke aluminium, banyak yang terkejut,” kata Andy Farida, analis aluminium di Fastmarkets Ltd. “Mereka sedang diversifikasi.”
Namun, kelanjutan rencana ini akan sangat tergantung pada kondisi harga. Analis Citigroup Inc. memperkirakan tidak akan ada tambahan pasokan signifikan secara global—termasuk dari Indonesia—jika harga logam ini bertahan di kisaran US$2.500 per ton.
“Banyak yang percaya sebagian besar proyek ini tidak akan pernah terealisasi,” ujar Liu Defei, analis veteran eks Rio Tinto dan lembaga riset China Antaike.
Dia menyoroti tantangan soal pasokan listrik. “Jika smelter tidak bisa mengamankan listrik yang stabil dan murah—termasuk biaya konstruksi yang efisien—maka itu jalan buntu.”
Batu bara—yang stoknya melimpah di Indonesia—mungkin kembali diandalkan seperti halnya di sektor nikel. Namun, yang paling krusial adalah apakah Indonesia mampu menambang cukup bauksit untuk memenuhi ambisi konglemerat logam asal China tersebut.
“Saya rasa kita tak boleh meremehkan kemampuan China,” kata Farida.
“Kalau mereka bisa lakukan hal yang sama seperti di nikel, bukan tidak mungkin proyeksi saat ini terlalu konservatif.”
(bbn)





























