Sebuah survei di Inggris terhadap lebih dari 600 orang yang dipublikasikan Januari lalu, seperti dikutip Washington Post, menemukan "korelasi negatif yang signifikan antara penggunaan alat AI secara rutin dan kemampuan berpikir kritis," terutama pada pengguna muda yang cenderung menjadikan AI sebagai pengganti, bukan pelengkap, dalam menyelesaikan tugas rutin.
Studi dari Wharton School di University of Pennsylvania yang terbit pekan lalu menunjukkan, siswa SMA di Turki yang memiliki akses ke tutor berbasis ChatGPT tampil jauh lebih baik dalam menyelesaikan soal latihan matematika. Namun, ketika akses ke program tersebut dicabut, performa mereka lebih buruk dibanding siswa yang sama sekali tidak menggunakan AI.
Studi MIT yang menarik perhatian luas —dan juga kritik— melibatkan pengukuran aktivitas otak mahasiswa saat menggunakan ChatGPT untuk menulis esai bergaya SAT dalam tiga sesi. Hasilnya dibandingkan dengan peserta yang menggunakan Google atau tidak menggunakan bantuan digital sama sekali.
Sebanyak 54 peserta mengenakan perangkat berbentuk topi, berisi elektroda, untuk memonitor sinyal listrik di otak mereka.
Data elektroensefalografi atau EEG menunjukkan bahwa peserta yang menggunakan ChatGPT menunjukkan keterlibatan otak terendah dan "secara konsisten tampil lebih buruk dalam aspek neurologis, linguistik, dan perilaku," menurut laporan studi tersebut. Esai yang mereka hasilkan terdengar seragam dan kurang memiliki sentuhan pribadi. Guru bahasa Inggris yang membaca esai menyebutnya "tanpa jiwa."
Pada bagian“otak saja” menunjukkan aktivasi dan koneksi saraf tertinggi antara berbagai bagian otak yang “berkorelasi dengan memori yang lebih kuat, akurasi semantik yang lebih baik, dan kepemilikan atas karya tulis yang lebih besar.” Dalam sesi keempat, kelompok ChatGPT diminta menulis ulang esai mereka tanpa bantuan alat, namun sebagian besar peserta tidak ingat apa yang mereka tulis sebelumnya.
Para skeptis menyoroti berbagai keterbatasan studi tersebut. Mereka menyatakan bahwa konektivitas otak yang diukur melalui EEG belum tentu menunjukkan penurunan fungsi kognitif atau kesehatan otak. Selain itu, insentif studi juga rendah—esainya, misalnya, tidak berpengaruh terhadap penerimaan kuliah. Hanya 18 peserta yang kembali untuk sesi keempat.
Peneliti utama MIT, Nataliya Kosmyna, mengakui bahwa studi ini memiliki ruang lingkup terbatas dan, berbeda dari judul-judul viral di internet, bukan ditujukan untuk menyimpulkan ChatGPT membuat manusia menjadi bodoh. Makalah ini belum melewati proses peninjauan sejawat (peer-review), namun timnya merilis temuan awal untuk mendorong diskusi tentang dampak ChatGPT, khususnya pada otak yang sedang berkembang, serta risiko dari budaya Silicon Valley yang cenderung meluncurkan teknologi kuat secara terburu-buru.
"Mungkin kita tidak seharusnya menerapkan budaya seperti itu secara membabi buta di ruang-ruang yang otaknya masih rapuh," ujar Kosmyna dalam sebuah wawancara.
OpenAI, perusahaan asal California yang merilis ChatGPT pada 2022, tidak menanggapi permintaan komentar kepada The Washington Post yang memiliki kemitraan konten dengan OpenAI.
Perempuan Minta Cerai karena Jawaban ChatGPT
Michael Gerlich, peneliti utama dalam studi survei di Inggris, menyebut pendekatan MIT brilian" dan mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan AI mempercepat proses yang dikenal sebagai "cognitive off-loading", di mana manusia menggunakan tindakan fisik untuk mengurangi beban otak. Namun alih-alih hanya melepaskan data sederhana—seperti nomor telepon yang dulunya kita hafal tapi kini disimpan di ponsel—orang yang bergantung pada LLM cenderung melepas proses berpikir kritis.
Studi Gerlich menunjukkan bahwa kelompok muda dan mereka yang memiliki latar pendidikan lebih rendah lebih cepat melepaskan proses berpikir kritis kepada LLM karena kurang percaya diri terhadap kemampuan mereka. ("Ini sudah jadi bagian dari cara saya berpikir," kata seorang pelajar kepada peneliti.) “Itu adalah model bahasa besar. Anda pikir dia lebih pintar dari Anda. Dan Anda pun menerimanya,” kata Gerlich, profesor di SBS Swiss Business School di Zurich.
Meski demikian, Kosmyna, Gerlich, dan para peneliti lainnya mengingatkan agar tidak menarik kesimpulan terburu-buru—belum ada studi jangka panjang yang tuntas mengenai dampak teknologi baru ini terhadap kognisi. Mereka juga menekankan bahwa manfaat AI pada akhirnya mungkin lebih besar dari risikonya, seperti membebaskan otak manusia untuk berpikir lebih luas dan ambisius.
Ketakutan Lama dan Peluang Kreativitas Baru
Ketakutan bahwa teknologi akan mengubah cara kerja otak bukanlah hal baru. Socrates pernah memperingatkan bahwa menulis akan membuat manusia mudah lupa. Pada pertengahan 1970-an, guru-guru khawatir kalkulator murah akan membuat siswa kehilangan kemampuan berhitung dasar. Lebih baru lagi, muncul kekhawatiran terhadap “amnesia digital” karena meningkatnya penggunaan mesin pencari.
"Belum lama ini kita panik karena berpikir Google membuat kita bodoh. Tapi sekarang, karena Google sudah jadi bagian dari hidup sehari-hari, tidak terasa menakutkan lagi," kata Sam J. Gilbert, profesor ilmu saraf kognitif di University College London. "ChatGPT kini jadi target baru kekhawatiran itu. Kita harus sangat hati-hati dan seimbang dalam menafsirkan temuan-temuan ini."
Paper MIT menyebut penulis esai yang menggunakan ChatGPT menunjukkan "utang kognitif", kondisi di mana ketergantungan pada program semacam itu menggantikan proses berpikir mandiri yang seharusnya melibatkan usaha otak. Hasilnya, esai menjadi bias dan dangkal. Dalam jangka panjang, utang kognitif seperti ini bisa membuat kita lebih mudah dimanipulasi dan membunuh kreativitas. Namun Gilbert berpendapat bahwa studi MIT juga bisa dibaca sebagai contoh "cognitive spillover", yaitu membuang sebagian informasi untuk memberi ruang mental bagi pemikiran yang lebih besar dan berani.
“Hanya karena seseorang menghabiskan lebih sedikit energi mental untuk menulis esai dalam eksperimen ini, bukan berarti itu hal yang buruk,” katanya. “Mungkin saja mereka menggunakan kapasitas mentalnya untuk hal lain yang lebih bernilai.”
Para ahli menyarankan bahwa jika digunakan dengan tepat, AI dalam jangka panjang bisa melengkapi—bukan menggantikan—kemampuan berpikir kritis manusia.
Studi Wharton School yang melibatkan hampir 1.000 siswa SMA di Turki juga mencakup kelompok yang mendapat akses ke tutor gaya ChatGPT yang dilengkapi pengaman, seperti petunjuk rancangan guru alih-alih jawaban langsung. Hasilnya, siswa dalam kelompok ini tampil sangat baik dan memiliki performa yang sebanding dengan siswa non-AI saat menyelesaikan soal secara mandiri.
Peneliti dari Carnegie Mellon University, Aniket Kittur, menyatakan bahwa dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami cara terbaik membentuk perilaku pengguna dan merancang LLM yang tidak merusak keterampilan berpikir kritis. Ia merupakan bagian dari tim yang mengembangkan AI yang dirancang untuk memicu kreativitas, bukan menghasilkan keluaran akhir yang datar.
Salah satu program mereka, BioSpark, membantu pengguna mencari inspirasi dari alam untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, dalam merancang rak sepeda yang lebih baik, program dapat menampilkan gambar dan informasi tentang spesies hewan—seperti bentuk kaki katak atau lengketnya lendir siput—sebagai sumber inspirasi.
Pengguna dapat menjelajahi riset ilmiah terkait, menyimpan ide seperti Pinterest, lalu mengajukan pertanyaan lebih lanjut ke AI. "Kita butuh cara-cara baru untuk berinteraksi dengan alat ini agar bisa membuka kreativitas," kata Kittur. "Dan kita juga butuh metode yang ketat untuk mengukur seberapa efektif alat tersebut. Itu hanya bisa dilakukan lewat riset."
Riset tentang bagaimana AI dapat meningkatkan kreativitas manusia berkembang pesat, tetapi kurang mendapat perhatian karena kecenderungan publik yang masih waspada terhadap teknologi, kata Sarah Rose Siskind, penulis sains dan komedi asal New York yang menjadi konsultan bagi perusahaan AI. Siskind percaya bahwa masyarakat perlu diedukasi lebih baik tentang cara menggunakan dan memahami AI. Ia bahkan membuat video tentang cara dirinya memanfaatkan AI untuk memperluas repertoar lelucon dan menjangkau audiens baru. Ia juga tengah menulis makalah riset tentang kegunaan ChatGPT dalam dunia komedi.
"Saya bisa menggunakan AI untuk memahami audiens saya dengan empati dan keahlian lebih dari sebelumnya. Ada banyak potensi kreativitas baru yang seharusnya lebih disorot," kata Siskind.
(prc/wep)





























