RI Kena Tarif 32%: Ekspor Lesu, Defisit Transaksi Berjalan Lebar
Dovana Hasiana
09 July 2025 13:27

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menilai kebijakan tarif hingga 32% terhadap produk Indonesia akan menyebabkan pelemahan daya saing ekspor Tanah Air di pasar Amerika Serikat (AS). Pada akhirnya, hal ini akan menimbulkan pelebaran defisit neraca transaksi berjalan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dengan kontribusi sekitar 9%–10% dari total ekspor Indonesia.
Menurut Josua, dengan tarif tetap di level tinggi, ekspor produk Indonesia, terutama sektor-sektor unggulan seperti tekstil, alas kaki, perikanan, mebel, dan komoditas manufaktur lainnya akan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan pangsa pasar di AS.
“Dampak langsungnya adalah menurunnya volume ekspor ke pasar AS, yang pada gilirannya berpotensi melebarkan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia secara moderat hingga mencapai sekitar 0,87% dari Produk Domestik Bruto [PDB] pada 2025,” ujar Josua kepada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (9/7/2025).
Perlu diketahui, tarif untuk produk asal Indonesia pada level 32% lebih tinggi dibandingkan dengan Filipina sebesar 17%, Vietnam sebesar 20%, Malaysia sebesar 25%, dan Korea Selatan sebesar 25%. Namun, tarif Indonesia masih lebih rendah dari Thailand sebesar 36%, Kamboja sebesar 36%, Myanmar sebesar 40% dan Bangladesh sebesar 35%.




























