Logo Bloomberg Technoz

Pada Jumat, harga minyak Brent bertahan di kisaran US$68 per barel di London, turun 13% dalam dua pekan terakhir. Peralihan dari konflik terbuka antara Israel dan Iran — negara pengekspor minyak utama — ke gencatan senjata yang rapuh membuat ekspor energi dari Timur Tengah relatif tidak terganggu.

“Karena OPEC+ telah beralih dari strategi mempertahankan harga menjadi fokus pada pangsa pasar, mungkin sudah tidak ada gunanya mempertahankan pemangkasan produksi sukarela yang hanya bersifat simbolis,” ujar Harry Tchilinguirian, kepala riset grup di Onyx Capital Group. “Sebaiknya percepat saja prosesnya, lalu lanjutkan dengan strategi berikutnya.”

Sejak April, OPEC dan mitranya mulai mengakhiri kebijakan pembatasan produksi yang sudah bertahun-tahun diterapkan, dengan membuka keran produksi lebih lebar. Hal ini mengejutkan para pedagang minyak dan memunculkan pertanyaan soal strategi jangka panjang kelompok tersebut. Konferensi video OPEC+ pada Sabtu dipercepat sehari karena alasan jadwal.

Para delegasi menyebutkan berbagai alasan di balik pergeseran kebijakan ini: untuk mengantisipasi lonjakan permintaan bahan bakar pada puncak musim panas, menekan produksi berlebih dari sejumlah anggota, serta merebut kembali pangsa pasar dari pesaing seperti produsen minyak serpih (shale) AS. Riyadh disebut sangat ingin segera mengaktifkan kembali produksi yang sempat dihentikan.

Kenaikan produksi ini kemungkinan akan disambut baik oleh Trump, yang terus mendorong harga minyak lebih rendah guna mendukung perekonomian AS, meredam inflasi, sekaligus menekan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) agar memangkas suku bunga.

Namun demikian, percepatan produksi ini juga berisiko memperburuk kelebihan pasokan yang sudah mulai terbentuk, sehingga dapat membuat harga minyak turun ke level yang bisa memberatkan para produsen.

Persediaan minyak global dalam beberapa bulan terakhir meningkat sekitar 1 juta barel per hari, seiring melemahnya permintaan dari China dan meningkatnya produksi di kawasan Amerika — mulai dari AS, Guyana, hingga Kanada dan Brasil.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kelebihan pasokan pasar akan semakin besar pada akhir tahun ini. Sementara itu, lembaga keuangan seperti JPMorgan Chase & Co serta Goldman Sachs Group Inc memprediksi harga minyak bisa turun ke level US$60 per barel, atau bahkan lebih rendah, pada kuartal IV tahun ini.

(bbn)

No more pages