Logo Bloomberg Technoz

Demikian seterusnya, kata Soeprapto persaingan sistem GSM dengan perkembangan teknolgi memasuki tahapan revolusi industri. Dimulai dari industr 1.0 yang ditandai dengan mekanisasi (banyak menggunakan tenaga manusia), 2.0 yang mengenalkan sistem elektrik (listrik), 3.0 ditandai penggunaan elektronik, dan 4.0 ditandai dengan digital yang berkembang di era generasi Z.

“Termasuk dengan aneka ragam fasilitas media sosial,” ujarnya.

Keadaan ini telah menjadikan generasi Z menjadi lebih banyak berkomunikasi tidak langsung atau perantara melalui penggunaan handphone maupun komputer atau laptop, yang disadari atau tidak berdampak pada ketegangan saraf mata, ketegangan kulit, dan merasuknya radiasi.

Hal ini menjadi penyebab kondisi tubuh generasi Z sebagai pengguna teknologi digital di media sosial ini menjadi kehilangan kesempatan untuk  relaksasi. 

“Sehingga tingkat kebugaran raut wajah, kulit dan lain lain menjadi kalah segar dengan generasi Y atau sebelumnya,” jelasnya.

Penyebab kedua, kata Soeprapto adalah makanan yang dikonsumsi oleh generasi Z lebih banyak mengkonsumsi makanan kemasan yang kebanyakan berpengawet.

Adapun penyebab ketiga, secara sosiologis dengan banyaknya interaksi berperantara media sosiall, dan bahkan banyak berinteraksi dengan mesin saat main game.

“Maka banyak anggota  yang menjadi lebih banyak melakukan imaginative interaction daripada real interaction, banyak yang menciptakan dunia ya sendiri sehingga mengalami autis sosial, anomi, dan sebagainya,” terangnya.

Tentunya hal ini membuat hormon dopamin dan endorfin tidak berproses maksimal.

“Akhirnya rada bahagia atau senang yang didapat sebetulnya semu, tidak alami, sehingga performance-nya menjadi nampak lebih cepat menua,” imbuhnya.

Generasi Z atau Gen mereka yang lahir direntang 1997-2012, sedangkan mereka yang berasal dari Generasi Y atau Milenial, kelahiran 1981-1996. 

Fenomena antar generasi tersebut mencuat di media sosial.Gen z dicap lebih tua dibandingkan usianya, sedangkan generasi milenial malah dibilang berwajah muda.

“Apa itu 30-an? Jiwa kami masih di 17,” ucap akun media sosial @ebifebrizky.

“Gen Z terlalu banyak menyerap informasi jadi banyak beban pikiran beras capek dan udah lama banget hidupnya,”ucap akun media sosial @indah.

(dec/spt)

No more pages