Logo Bloomberg Technoz

Tren kenaikan harga SBN sudah berlangsung sejak awal tahun. Meski sempat tertekan pada April terutama ketika guncangan pasar global membesar gara-gara pengumuman kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), akan tetapi yield kembali turun setelah terjadi jeda.

Sebagai gambaran, yield tertinggi SBN tenor 2 tahun pada semester pertama tahun ini, adalah 7,072% yaitu pada 14 Januari lalu. Sementara level terendah imbal hasil SBN-2Y tercatat pada Senin kemarin di 6,053%.

Pada perdagangan Selasa ini (2/7/2025), yield SBN-2Y makin turun ke 6,011%. Artinya, telah terjadi penurunan yield hingga 106,1 basis poin (bps) selama rentang tersebut.

Pergerakan yield atau tingkat imbal hasil SBN sepanjang tahun 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Hal serupa juga terjadi untuk tenor 5 tahun. Pada perdagangan hari ini, yield SBN-5Y seperti ditunjukkan oleh data Bloomberg, berada di level 6,272%.

Yield tenor ini sudah turun sebesar 89,5 bps dibanding posisi tertinggi tahun ini di 7,167% pada pertengahan Januari lalu. 

Sedangkan tenor 10 tahun, hari ini diperdagangkan dengan yield di level 6,615% setelah kemarin sempat menyentuh level terendah setahun di 6,604%. Tingkat imbal hasil tenor acuan ini sudah turun 66,1 bps dibanding posisi tertingginya tahun ini.

Kenaikan harga surat utang RI sepanjang tahun ini didukung oleh animo asing yang masih besar.

Ketika di pasar saham, dana global masih mencatat net sell sebesar US$3,28 miliar year-to-date sampai perdagangan kemarin, sekitar Rp53,1 triliun, investor asing masih net buy di pasar surat utang.

Sampai perdagangan 26 Juni, asing membukukan posisi beli bersih di SBN senilai US$2,54 miliar, sekitar Rp41,17 triliun year-to-date. Kepemilikan asing di SBN sampai 26 Juni saat ini mencapai Rp918,91 triliun. 

Asing mulai kurangi posisi

Pemodal asing telah mencatat posisi beli bersih selama enam bulan berturut-turut sejak Desember tahun lalu. Hanya saja, minat asing di SBN sepertinya mulai terkikis pada Juni. 

Sampai data 26 Juni, posisi asing beralih menjadi net sell sebesar Rp7,36 triliun selama bulan Juni saja (month-to-date).

Bila posisi jual bersih itu bertahan sampai akhir bulan, maka rekor pembelian bersih oleh asing selama enam bulan beruntun berpotensi terjegal.

Minat asing yang sedikit berkurang di SBN pada Juni, dilatarbelakangi oleh situasi pasar global yang kembali tak menentu akibat pecah perang di Timur Tengah ketika ketidakpastian terkait kebijakan tarif AS serta prospek suku bunga global telah membebani.

Namun, pada 26 Juni lalu, asing kembali memborong SBN sebesar Rp1,46 triliun dalam sehari.

Walau, bila membandingkan nilai belanja global fund pada surat utang negara lain di Asia, Indonesia memang masih kalah.

Di India, pemodal global memborong surat utang pemerintah senilai US$3,67 miliar selama semester pertama tahun ini.

Sedangkan di Malaysia, sampai data 30 Mei, pemodal global juga masih net buy lebih besar senilai US$5,68 miliar year-to-date. Sementara di Thailand, nilai belanja pemodal global lebih kecil yaitu sebesar US$1,35 miliar sampai 1 Juli lalu. Adapun di Filipina, asing malah mencatat net sell US$48,9 juta year-to-date.

Posisi kepemilikan asing di SBN selama 2025 di tengah pergerakan rupiah (Riset Bloomberg Technoz)

Sebagian dinilai terdorong oleh nilai rupiah yang makin stabil dan inflasi domestik yang terkendali hingga membuka peluang penurunan BI rate lebih lanjut pada tahun ini, menurut Ekonom DBS Radhika Rao seperti dilansir Bloomberg News.

Spekulasi pemangkasan BI rate dalam waktu dekat juga yang ditengarai mendorong lonjakan permintaan investor dalam lelang SUN kemarin.

Nilai incoming bids atau penawaran masuk dari para investor pada lelang kemarin naik hingga 50,71% menembus Rp121,68 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah setelah lelang pada 2020 silam.

data inflasi Juni memberi penguatan ekspektasi penurunan BI rate. Data inflasi Juni meskipun mengalami kenaikan melampaui perkiraan, yaitu sebesar 1,87%, mengindikasikan laju kenaikan harga masih terkendali.

Sementara muncul sinyal pelemahan permintaan domestik terlihat dari melambatnya inflasi inti dua bulan beruntun. Laju inflasi inti pada Juni hanya tercatat sebesar 2,37%, melemah dibanding Mei sebesar 2,40%.

Rilis data inflasi tersebut menguatkan ekspektasi akan berlanjutnya lagi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini, menurut perkiraan Bloomberg Economics.

Terlebih, kondisi manufaktur yang masih terjebak kontraksi selama tiga bulan beruntun, menyiratkan kebutuhan akan stimulasi yang lebih besar pada perekonomian. 

"Kami memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin pada kuartal ketiga, secepatnya pada bulan Juli ini bila kinerja rupiah mampu mempertahankan penguatannya," kata Tamara Henderson, ekonom dari Bloomberg Economics.

(rui)

No more pages